Bojonegoro (beritajatim.com) – Fenomena langka terjadi di Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro. Minyak bumi terlihat merembes secara alami dari celah-celah batuan kapur di kawasan Kedung Asin.
Rembesan minyak tersebut muncul langsung dari sela bebatuan di tepian sungai, menghadirkan fenomena geologi yang jarang dijumpai di Indonesia dan menarik perhatian peneliti nasional hingga pemerintah daerah. Keunikan ini sekaligus memperkuat upaya Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Kedung Asin yang dahulu dikenal sebagai kawasan berair asin kini berubah menjadi aliran sungai yang diapit tebing batu kapur khas Pegunungan Kendeng. Di lokasi inilah minyak bumi merembes perlahan dari batuan kapur, menciptakan pemandangan yang tidak biasa.
Warga menyebut fenomena tersebut telah berlangsung sejak dahulu. Sebelum listrik masuk desa, masyarakat bahkan memanfaatkan minyak yang merembes sebagai bahan bakar lampu teplok, menunjukkan bahwa fenomena ini bukan hal baru, namun kini semakin diakui nilai ilmiahnya.
Fenomena rembesan alami itu menjadi salah satu alasan kuat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memasukkan kawasan tersebut sebagai bagian dari Geopark Nasional Bojonegoro yang sedang diajukan menuju UGGp. Geosite Kedung Lantung — nama baru yang digunakan untuk Kedung Asin — menjadi satu dari lima geosite utama dalam Cagar Alam Geologi Bojonegoro dan menjadi contoh nyata petroleum system dangkal yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia.
Tim Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) meninjau langsung lokasi tersebut pada 12 November 2025 untuk menilai nilai ilmiah dan kelayakannya sebagai geosite kelas dunia. Kunjungan itu dipimpin oleh Prof Mega Fatimah Rosana yang menegaskan bahwa rembesan minyak bumi alami di Drenges merupakan fenomena geologi yang sangat unik dan jarang ditemukan.
“Topik petroleum system ini sangat menarik. Kalau tambang sudah banyak, tapi minyak bumi yang merembes alami belum ada. Ini bisa menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro,” ujar Prof Mega.
Prof Mega juga menekankan bahwa keberadaan fenomena tersebut harus diiringi dengan penyediaan panel interpretasi. Panel tersebut dinilai penting agar pengunjung dapat memahami proses geologi yang terjadi, sehingga kawasan ini tidak hanya menjadi lokasi wisata alam, tetapi berkembang sebagai destinasi edukasi yang mengangkat nilai ilmiah Bojonegoro secara lebih luas.
Selain keunikannya, Kedung Asin menawarkan bentang alam yang memukau. Aliran sungai yang membelah tebing kapur putih dengan vegetasi hijau di sisi kanan dan kiri menciptakan suasana alami yang menenangkan. Jaraknya sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam menggunakan sepeda motor, menjadikannya mudah diakses oleh wisatawan maupun peneliti.
Geopark Bojonegoro mengangkat tema “Petroleum and Gas System” sebagai identitas utama, mencerminkan kekayaan geologi yang dimiliki wilayah tersebut. Selain Geosite Kedung Lantung, empat geosite lain yang masuk dalam kawasan cagar alam geologi adalah Petroleum System Wonocolo, Struktur Antiklin Kawengan, Kayangan Api, dan Fosil Gigi Hiu Purba.
Kelima geosite ini membentuk satu kesatuan narasi ilmiah mengenai sistem migas, aktivitas tektonik, dan sejarah geologi purba yang menjadi kekuatan Bojonegoro dalam mengejar status UGGp. [lus/beq]






