Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah perusahaan rintisan atau startup di Indonesia belum lama ini mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan. Bahkan, hanya dalam waktu satu minggu ini, sudah ada tiga perusahaan startup yang mem-PHK massal para karyawan, yaitu JD.ID, Zenius, dan LinkAja.
Terjadinya PHK di startup itu dipandang ada kaitannya dengan fenomena ledakan gelembung atau bubble burst yang terjadi pada startup. Lantas, apakah makna dari fenomena bubble
burst itu?
Bubble burst adalah sebuah fenomena pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan nilai pasar begitu cepat, tetapi juga diiringi dengan penurunan yang sama cepatnya. Seperti dikutip dari dari Investopedia, bubble atau gelembung ini ditandai dengan naiknya nilai pasar dengan cepat, terutama pada harga aset.
Sementara itu inflasi yang cepat berdampak pada penurunan nilai yang cepat atau kontraksi. Biasanya bubble ekonomi ini terjadi akibat lonjakan harga aset yang didorong dengan perilaku pasar begitu tinggi.
Jumlah startup di Indonesia semakin bertambah, sementara itu modal semakin menipis. Bukan hanya itu, pada awal perkembangannya perusahaan startup juga dinilai terlalu agresif, hasilnya mereka terpaksa harus mengurangi karyawan yang sebelumnya direkrut secara besar-besaran.
Fenomena PHK massal ini berawal dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Jika mengamati dari fenomena bubble burst di Indonesia, tampaknya hal ini terjadi di kalangan startup yang timbul tenggelam. Banyak startup muncul namun tak sedikit yang gulung tikar.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pekerjaan”]
Perusahaan ini banyak merekrut karyawan lewat strategi bakar uang. Meski di sisi lain juga banyak melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK. Selain itu biasanya, gelembung tercipta akibat lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang terkena euforia.
Selama ini terjadi, aset bakal diperdagangkan pada harga, atau dalam kisaran harga, yang sangat melebihi nilai asli dari aset. Nilai ini biasanya dipakai oleh para investor dalam menentukan harga sebuah aset di pasaran.
Secara jelasnya, penyebab utama bubble burst sampai kini masih jadi perdebatan para ekonom. Terutama faktor-faktor yang menjadi dasar terjadinya fenomena bubble burst yang tak bisa didefinisikan secara pasti. Namun, bubble burst baru teridentifikasi pasca penurunan harga secara besar-besaran. (dan/ian)






