Lumajang (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memberikan kepastian bahwa tidak ada dampak kerusakan pasca-erupsi awan panas Gunung Semeru yang terjadi dua kali dalam tiga hari terakhir.
Erupsi ini dilaporkan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) dengan jarak luncuran awan panas yang mencapai 5 kilometer ke arah timur dan tenggara.
Menurut laporan dari PVMBG, erupsi awan panas tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimal 27 milimeter dan berdurasi 11 menit 36 detik, terhitung sejak pukul 22.25 WIB hingga 22.36 WIB. Sebelumnya, Gunung Semeru juga mengalami erupsi serupa pada Jumat (9/1/2026) yang memiliki jarak luncuran yang sama.
Kabid Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan bahwa tim BPBD telah melakukan asesmen menyeluruh di kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Semeru. Hasil asesmen tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan yang ditimbulkan oleh erupsi tersebut.
Namun, Yudhi mencatat adanya kepanikan dari warga di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, yang sempat merasa takut rumah mereka terdampak akibat erupsi yang terjadi pada malam hari.
“Jadi, kalau untuk dampak langsung itu tidak ada, tapi memang sempat bikin warga heboh karena kejadiannya malam hari dan bikin mereka takut rumahnya terdampak,” ujar Yudhi ketika dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).
Meski begitu, Yudhi menambahkan bahwa potensi erupsi awan panas susulan masih dapat terjadi sewaktu-waktu. Status aktivitas Gunung Semeru saat ini masih berada di level III (Siaga), yang berarti masih bersifat fluktuatif.
Oleh karena itu, BPBD Lumajang mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lereng dan daerah aliran sungai (DAS) Gunung Semeru.
“Warga kami minta tetap tenang dan jangan panik, tapi harus waspada bagi mereka yang beraktivitas di area laharan seperti penambang,” lanjutnya.
BPBD juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena daerah tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
“Juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai,” ungkap Yudhi. [has/suf]






