Blitar (beritajatim.com) – Empat pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Blitar meninggal dunia dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Sementara tiga dari empat pasien tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid.
“Kalau yang MD (meninggal dunia) diagnosis murni DBD hanya satu orang dari Sanankulon, tiga orang yang lain karena ada penyakit penyerta yang lainnya,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, Senin (25/3/2024).
Kasus DBD di Kabupaten Blitar selama 3 bulan ini memang cukup tinggi. Tercatat pada Januari 2024, angka DBD di Kabupaten Blitar mencapai 75 kasus.
Sementara pada Februari 2024 angka kasus DBD di Kabupaten Blitar mencapai 152. Kasus DBD di Kabupaten Blitar terus meningkat di bulan Maret 2024, tercatat hingga saat ini ada 102 warga yang terjangkit demam berdarah.
“Yang meninggal itu hanya 1 yang benar-benar positif DBD,” tegasnya.
Kasus DBD di Kabupaten Blitar sendiri mengalami tren kenaikan cukup drastis karena merupakan siklus 5 tahunan. Sehingga jumlah kasus diketahui banyak.
Untuk data empat orang yang meninggal karena demam berdarah ini, hanya 1 yang masuk kategori dengue shock syndrom sementara lainnya diketahui juga ada penyakit penyerta lainnya.
“Masyarakat harus lebih waspada dengan segera memeriksakan diri dan cek darah di laboratorium jika terjadi gejala demam berdarah seperti demam tinggi lebih dari tiga hari, ruam merah, kepala pening dan mual,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar juga meminta masyarakat agar meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN. Warga diminta untuk tidak bergantung pada kegiatan fogging.
Pasalnya, fogging bukan solusi utama dalam penanggulangan DBD sebab hanya membunuh nyamuk dewasa dan bukan telur dan jentik nyamuk. [owi/beq]






