Jember (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Emil Dardak mengatakan, koperasi menjadi harapan untuk menekan angka kemiskinan di Jawa Timur. Saat ini sektor pertanian menjadi kantong kemiskinan.
“Sepertiga masyarakat Jawa Timur bekerja di sektor pertanian. Jawa Timur ini dibilang luas iya, tapi untuk menampung sepertiga dari 40 juta, ini agak mepet ketersediaan lahannya, sehingga pada saat kita cek di mana kantong kemiskinan, kebanyakan (warga miskin) berprofesi petani,” kata Emil, saat berpidato dalam acara peringatan Hari Koperasi, di alun-alun Kabupaten Jember, Kamis (27/7/2023).
“Sumbangsih sektor pertanian primer mulai dari menanam sampai panen sekitar 10 – 11 persen. Yang terbesar adalah manufaktur atau industri, yakni 30 persen. “Tapi 30 persen warga Jawa Timur bekerja di 10 persen ini. Rebutan ceruk kecil. Luasnya 48 ribu hektare, penduduknya 40 juta. Kita bandingkan Malaysia dengan luas 130 ribu hektare, yang jumlah penduduknya 30 juta. Padat,” kata Emil.
Emil menegaskan, perlu peningkatan pendapatan petani melalui produk pasca panen. “Jangan berhenti di panen. Diolah dam dijual ke pasar yang lebih baik, diangkut lebiih baik,” katanya.
“Kalau dulu biasanya jual putus. Terima cash and carry, tapi dapatnya kecil. Tidak bisa dapat profit industri hilirnya. Dengan diawadahi koperasi, maka keuntungan hilirnya ini baliknya ke petani,” kata Emil.
“Koperasi konsumen juga bisa membeli langsung kepada produsen, sehingga manfaatnya bisa mereka nikmati dengan harga lebih kompetitif. Inilah keindahan koperasi,. Satu langkah kita mendekat ke pengentasan kemiskinan,” kata Emil.
Saat menjadi bupati Trenggalek, Emil membuat peraturan daerah yang mewajibkan waralaba modern untuk melibatkan koperasi. “Menerbitkan perdanya saja susah, karena dibilang itu bukan kewenangan kabupaten. Koperasi kewenangan di atasnya. Tapi saya bilang: kewenangan perdagangan ada di kabupaten,” katanya.
“Jadi bila seorang bupati sebagai pemegang kewenangan perdagangan, ingin mengedepankan koperasi, jangan takut dengan kewenangan. Karena kita harus melindungi koperasi sebagai pemegang kewenangan perdagangan di wilayah itu,” kata Emil.
Menurut Emil, awalnya banyak waralaba modern berjaringan yang meminta kompensasi. Namun ia jalan terus. “Dengan berbasis koperasi, rezeki mini market tidak hanya dinikmati satu orang atau satu keluarga, tapi oleh banyak masyarakat, termasuk toko kelontong yang tergusur dan tergeser mini market itu. Inilah indahnya koperasi,,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto setuju koperasi bergerak tak hanya di sektor pembiayaan, tapi juga sektor perdagangan seperti penjualan barang pokok penting (bapokting) beras. “Pengelola koperasi harus ada kebersamaan dan keterbukaan. Sisa hasil usaha yang dibagikan kepada anggota harus jelas betul dan harus ada laporan berkala setiap bulan atau tiga bulan sekali,” katanya. [wir]






