Ngawi (beritajatim.com) – Emak-emak di Ngawi rela antre sampai ketiduran di lorong pasar. Mereka berharap mendapat jatah beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual dengan harga miring.
Beberapa kios di Pasar Besar Ngawi dapat jatah beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Keberadaan beras SPHP kemasan 5 kilogram itu jadi buruan masyarakat.
Pun, harganya yang hanya Rp54.500 per bungkus, cukup ramah di kantong. Harga itu setara dengan 10.900 per kilogram. Sementara, beras medium kemasan mencapai Rp70 ribu per kemasan 5 kilogram.
Puluhan emak-emak itu rela antre sejak dini hari sampai kios pedagang beras buka agar bisa mendapatkan beras SPHP. Namun, tak sedikit pula yang tak kebagian meski sudah antre berjam-jam.
Sementara di kios tersebut hanya tersedia 50 bungkus beras SPHP saja. Jatah tersebut sudah ditentukan oleh Bulog untuk dijual per hari.
Warga pun mengeluh lantaran sulitnya mendapatkan beras murah di tengah kenaikan harga cabai yang kini mencapai Rp85 ribu per kilogram.
“Semakin hari, beras semakin mahal. Saat ini sudah mencapai Rp70.000 kalau beras yang biasa. Kalau yang SPHP ini Rp54.500. Katanya Ngawi ini lumbung pangan, tapi kok susah cari beras murah. Apakah ini ada yang main, kami masyarakat yang kesusahan,” kata Vivi Virgonita, salah seorang warga.
Salah seorang pedagang di Pasar Besar Ngawi, Bagus Widiantoro mengatakan, memang benar selain mahalnya harga beras, harga cabai turut naik. “Ya karena beras mahal, akhirnya banyak yang antri untuk beli beras murah. Saat ini cabai sudah Rp85 ribu per kilogram,” kata Bagus. [fiq/beq]






