Blitar (beritajatim.com) – Durian Sumberasri Blitar ternyata unik. Durian ini jika lama disimpan maka akan semakin mantap.
Daging buahnya akan semakin menguning jika disimpan dua sampai tiga hari usai dipetik. Teksturnya juga semakin lembut namun tak lembek, dan aroma harumnya makin kuat.
“Buah durian lokal Sumberasri Nglegok ini semakin lama disimpan maka warnanya akan semakin kuning dan rasanya juga semakin manis legit dan pahitnya makin mantep,” kata Ahmad Jalal, petani Durian Sumberasri, ditulis Jumat (16/2/2023).
Buah durian lokal Sumberasri disebut oleh para pecinta durian termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mirip dengan durian Black Thorn. Rasanya yang manis legit dan sedikit pahit menjadi ciri khas buah yang baru saja diberi nama oleh Khofifah Indar Parawansa tersebut.
Yang menjadi keunikan tersendiri dari buah durian lokal Sumberasri ini adalah semakin matang buah durian maka warnanya akan semakin kuning. Namun tekstur buah durian tetap kering dan tidak lembek.
Menurut para petani, buah durian lokal Sumberasri ini biasanya didiamkan 1 hingga 2 hari setelah dipetik dalam kondisi matang. Hal itu dilakukan agar buah durian matang sempurna.

Meski dalam kondisi matang sempurna, namun kulit buah durian lokal Sumberasri ini tidak akan pecah seperti durian yang lain.
“Ini semakin matang semakin kuning mas, tapi teksturnya tidak akan lembek, tetep kering dan rasanya tetap manis legit,” imbuhnya.
Buah durian lokal Sumberasri ini, tidak bisa berukuran terlalu besar. Menurut para petani maksimal berat dari durian lokal Sumberasri ini hanya 4 kilogram saja.
Meski memiliki ukuran yang lumayan kecil jika dibandingkan dengan jenis durian lain, namun daging buah durian lokal Sumberasri justru lebih tebal dengan biji yang kecil. Hal itupun membuat para penikmat durian lokal Sumberasri puas dan tidak pernah kecewa.
Soal rasa buah durian lokal Sumberasri memiliki jaminan rasa yang hampir sama setiap buahnya. Asalkan petani durian melakukan perawatan yang pas terhadap pohonnya.
“Maksimal besar buah durian lokal Sumberasri ini hanya 4 kilogram saja tapi kalau buahnya tebal dan bijinya kecil,” jelasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Blitar”]
Jumlah pohon durian lokal Sumberasri ini sendiri kini masih berkisar ratusan. Namun jumlahnya terus bertambah seiring semakin banyaknya petani durian yang ingin menanamnya.
“Kalau jumlah masih sedikit tapi terus bertambah ini warga yang ingin mengembangkannya,” jelasnya.
Perawatan pohon durian lokal Sumberasri ini terbilang mudah para petani cukup melakukan pemupukan sebanyak 1 kali setahun dengan menggunakan pupuk organik. Hal itu dilakukan agar unsur hara dalam tanah tetap sehingga kualitas dan kuantitas buah durian tetap sama.
Di Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar sendiri ada lebih dari 20 ribu populasi pohon durian. Puluhan ribu pohon durian itu, terdiri dari berbagai jenis mulai dari Musangking,Bawor, Petruk, Badugul hingga yang terbaru durian lokal Sumberasri.
Durian lokal Sumberasri ini merupakan jenis durian yang awalnya tumbuh liar dan alami di perkampungan warga. Kemudian oleh warga dikembangkan menjadi durian lokal khas Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.
Hingga kini proses penanaman pohon durian lokal Sumberasri ini masih dilakukan secara tradisional yakni menggunakan biji.
“Durian Sumberasri ini dulu tumbuh begitu saja secara alami kemudian dikembangkan dan dirawat oleh warga desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar,” pungkasnya.
Konsumen buah durian lokal Sumberasri ini pun sudah berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Malang, Kediri, Tulungagung, Pasuruan hingga Surabaya. Permintaan buah durian yang mirip dengan jenis Black Thorn itupun cukup tinggi.
Sehingga para petani kewalahan untuk memenuhi permintaan buah durian dari berbagai konsumen di Jawa Timur. [owi/beq]






