Solo (beritajatim.com) – Sebanyak 120 UKM (Usaha Kecil Menengah) mengikuti edukasi bisnis yang digelar oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari, Senin (17/7/2023), di Alana Hotel and Convention Center Solo. UKM yang mengikuti acara tersebut adalah usaha makanan berbasis tepung terigu.
Selain 120 UKM yang hadir secara langsung atau offline, juga ada 50 UKM yang mengikuti secara online atau secara daring melalui aplikasi zoom meeting. Ada 2 kegiatan utama, yakni bincang-bincang dengan UKM Nutsafir asal Lombok dan pakar di bidang komunikasi desain visual dengan topik ‘Pentingnya Merek, Logo, Label, Desain Kemasan, dan HAKI Bagi Bisnis UKM’.
Senior Vice President Marketing Divisi Bogasari Ivo Ariawan dalam sambutan pembukaan menambahkan kegiatan edukasi KIAT Bogasari akan digelar di 4 kota yakni Solo, Malang, Bandung dan Medan. Targetnya kegiatan KIAT akan mengedukasi minimal 200 UKM di setiap lokasi.
BACA JUGA:
Hadapi Tantangan 2023, Bogasari Siap Kolaborasi dengan UKM
“Adapun 4 tema yang akan diangkat ialah pentingnya identitas usaha dalam bisnis, bagaimana cara meningkatkan penjualan di media sosial, bagaimana mengingkatkan produksi melalui rantai pasok, dan cara kelola SDM pada usaha UKM. Pemilihan tema berdasarkan permintaan UKM pada program KIAT tahun 2022 yang digelar secara virtual,” jelas Ivo.
Kegiatan lain yang akan kembali diaktifkan secara tatap muka oleh Bogasari adalah festival kuliner berbasis tepung terigu di tiga kota yakni Tasikmalaya, Purwokerto, dan Semarang. Kegiatan ini akan melibatkan peran aktif para UKM sebagai bagian dari promosi agar semakin dikenal masyarakat.
Sementara itu, Founder sekaligus CEO usaha kue kering ‘Nutsafir’ Sayuk Wibawati, yang didatangkan Bogasari khusus dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengatakan bahwa merek dan logo tidak hanya sekadar identitas usaha dan alat promosi tapi juga membangun kepercayaan kepada publik khususnya konsumen. “Itulah dampak langsung secara bisnis yang diperoleh UKM Nutsafir sejak berdiri tahun 2012,” kata Sayuk.
Menurutnya, trust atau kepercayaan yang diberikan konsumen kepada merek merupakan suatu aset bagi perusahaan. Karena ketika konsumen merasa aman atas suatu produk, perusahaan tidak hanya akan mendapatkan pemesanan ulang, tapi juga loyalitas atau kesetiaan dari pelanggan.

“Bahkan brand advocate atau promosi dari konsumen termasuk pembelaan ketika merek usaha mendapat sorotan yang kurang baik dari publik. Apalagi di era digital sosial media saat ini, terkadang publik dengan mudah menghakimi. Maka di sinilah manfaat logo dan merek sebagai brand advocate didapatkan oleh kita sebagai pelaku usaha,” ucap Sayuk
Ia menegaskan, di era digital seperti saat ini peran merek dan logo semakin penting dan efektif dalam mengkomunikasikan usaha karena produk semakin mudah dikenali di pasar. Apalagi saat ini pasar makin disesaki dengan generasi millenial yang lebih memilih berkomunikasi di ranah digital. Bagi kelas UKM hal ini sangat penting karena logo dan merek itu strategi komunikasi yang efektif untuk menaikkan kelas usaha UKM itu sendiri.
“Inilah yang dirasakan langsung oleh kami UKM Nutsafir. Alhamdulillah melalui berbagai kegiatan seperti MotoGP Mandalika 2022 yang lalu di Lombok, dengan sudah memiliki logo dan merek sebelumnya akhirnya makin dikenal dan pasar meluas ke berbagai daerah serta kelompok usia. Bahkan saat momen Mandalika lalu omset Nutsafir meningkat 3 kali lipat,” ungkap Sayuk.
Pembicara kedua, Lia Sidik PhD pakar di bidang komunikasi desain visual yang meraih S-3 dari Limkokwing University of Creative Technology, Malaysia menegaskan bahwa keberhasilan bisnis dari perusahaan besar tidak lepas dari kekuatan merek dan logo.
BACA JUGA:
Komitmen Jaga Lingkungan, Bogasari Kembali Raih Penghargaan Industri Hijau
Bahkan logo dan merek dari suatu produk dan perusahaan memiliki harga yang sangat mahal. Jadi sebaiknya UKM segera mendaftarkan logo dan merek dari usahanya sebelum keberhasilan dari usahanya diambil oleh perusahaan atau orang lain.
Praktisi di bidang komunikasi industri kreatif ini berbagi tips kepada ratusan UKM peserta KIAT 2023 Bogasari yakni cara membuat suatu merek dan logo adalah sederhana, namun mempunyai tampilan yang unik, mudah diingat, aplikasi menarik perhatian dan berkesan, serba guna sehingga bisa diaplikasikan ke banyak hal, serta cocok untuk target pasar.
“Jangan lupa, merek yang kuat adalah mereka yang berkomunikasi janji mereka dari pengalaman unik dengan cara yang jelas dan menarik. Merek harus melekat pada kehidupan konsumen dengan skema yang sederhana salah satunya ialah penggunaan warna yang unik dan konsisten,” saran Lia Sidik asal Surabaya ini.

Doktor di bidang komunikasi industri kreatif ini menambahkan, warna adalah hal yang strategis dalam pembuatan logo dan merek. Warna selalu dikaitkan dengan merek tertentu agar tertanam pada konsumen dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, warna merah, kuning, hijau identik dengan warna makanan. “Jadi saat memilih warna yang akan dipakai di logo dan merek, bahkan kemasan produk haruslah hati-hati dan bijak karena menyangkut kesan atau impresi yang akan dirasakan konsumen,” ulas pakar yang juga pengajar di berbagai universitas seperti Universitas Kristen Petra, ITS, UGM, Universitas Ciputra, dan UNAIR.
Konsultan di bidang desain kreatif yang juga menangani sejumlah klien dari UKM ni menegaskan dari pengalaman selama ini terkadang UKM tidak bisa membedakan branding personal (merek diri sendiri) dengan merek usahanya. Seringkali tercampur, padahal yang mau dikomunikasikan adalah bisnisnya bukan personalnya atau pribadi pemilik usaha.
BACA JUGA:
Bogasari Dukung Kebangkitan Ekonomi di Daerah Melalui Pemberdayaan UKM
“Catatan lain bagi UKM adalah perlunya komunikasi yang intens untuk logo dan merek usahanya. Ini yang belum disadari sepenuhnya oleh UKM, karena it membutuhkan tenaga SDM khusus. Jangan lupa, merek dan logo itu adalah hal strategis dalam memasarkan dan menjualkan produk. Jadi komunikasinya harus dijaga. Selain itu, UKM harus memisahkan jalur komunikasi pribadi dan komunikasi usaha di ranah media sosial,” saran Lia yang sudah berkecimpung di bidang merek selama lebih dari 20 tahun.
Setelah sesi bincang-bincang soal logo, merek dan HAKI, ratusan UKM Mitra Bogasari disuguhi edukasi demo masak oleh baker Bogasari Baking Center (BBC) Surabaya dengan resep Choco Crunchy Mushroom.
“Resep yang berbahan terigu Cakra Kembar Emas (CKE) ini sengaja diajarkan karena sedang jadi tren bentuk makanan yang bermotif tumbuh-tumbuhan, termasuk jamur atau mushroom,” ujar Hadi Haudi, Baker Senior BBC. [suf]






