Surabaya (beritajatim.com) – Aksi teatrikal bertajuk “Sampahmu Menenggelamkan Kami” digelar Selasa (11/6/2024) di depan Konsulat Jenderal Australia dan Jepang di Surabaya.
Aksi ini diikuti oleh 20 aktivis dari berbagai organisasi lingkungan dan universitas di Surabaya.
Mereka menampilkan adegan-adegan dramatis yang menggambarkan dampak buruk sampah plastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap impor sampah plastik dari kedua negara tersebut, yang dinilai telah memperburuk kondisi lingkungan di Jawa Timur.
“Setiap bulan, ribuan ton sampah plastik dari Australia dan Jepang masuk ke Indonesia. Ini tidak dikelola dengan baik,menyebabkan pencemaran serius dan membahayakan kesehatan,” ungkap koordinator aksi dari Ecoton, Alaika Rahmatullah di lokasi.
Impor Sampah Plastik Meningkat Tajam
Data dari UN Comtrade menunjukkan bahwa impor sampah plastik dari Australia ke Indonesia meningkat 27,9 persen pada tahun 2023-2024, mencapai 22.333 ton. Sementara itu, impor sampah plastik dari Jepang rata-rata mencapai 1.500 ton per bulan.
“Peningkatan impor sampah plastik ini telah mengakibatkan pencemaran yang signifikan di beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk Pagak, Malang, Gedangrowo, Sidoarjo, Bangun, dan Tanjangrono, Mojokerto,” jelas Alaika.
Daur Ulang Bukan Solusi
Penelitian Ecoton tahun 2024 mengungkapkan bahwa plastik daur ulang di Jawa Timur mengandung 346 bahan kimia berbahaya, termasuk 30 bahan kimia dengan konsentrasi tinggi.
“Senyawa beracun dalam plastik dapat mengganggu sistem endokrin pada manusia dan hewan, meningkatkan risiko kanker, penyakit jantung, diabetes, dan obesitas,” kata peneliti Ecoton, Rafika Aprilianti,
Rafika juga menegaskan bahwa industri daur ulang di Jawa Timur belum mampu mengolah sampah impor dengan aman dan efisien.
“Daur ulang plastik melepas emisi karbon yang sangat besar dan dapat meracuni ekosistem,” tambahnya.
Tuntutan Aktivis Lingkungan
Para aktivis lingkungan mendesak Australia dan Jepang untuk menghentikan pengiriman sampah plastik ke Indonesia. Mereka juga menuntut pemerintah Indonesia untuk memperketat regulasi impor sampah plastik dan meningkatkan kapasitas pengolahan sampah dalam negeri.
“Indonesia harus segera bertindak untuk melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakatnya dari bahaya sampah plastik impor,” tegas pendiri Ecoton, Prigi Arisandi.
Desakan kepada Australia dan Jepang:
- Mengkonfirmasi kembali komitmen untuk menangani masalah sampah impor di Jawa Timur.
- Melarang pengiriman sampah plastik jenis PVC (HS 391530).
- Melakukan pembersihan sampah di lokasi pembuangan sampah impor.
- Berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia untuk menyediakan solusi alternatif bagi industri daur ulang.
- Menghentikan pengiriman sampah plastik untuk didaur ulang.
“Semoga dengan aksi teatrikal ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam mengatasi masalah sampah plastik impor,” pungkas Prigi. [asg/beq]







