Malang (beritajatim.com) – KH Muhammad Abbas Billy Buntet Cirebon (Gus Abbas-red) Pengasuh Pesantren Nahdlatul Ummah, Buntet, Cirebon, Jawa Barat, salah satu pendakwah yang juga Dzurriyah Wali Songo berpesan, politik adalah menyalurkan aspirasi sesuai keinginan nurani seorang manusia.
Untuk itu, dalam pemilihan Presiden 2024, seharusnya tidak menjadi puing puing perpecahan seluruh anak bangsa setiap Pilpres berlangsung.
“Politik itu yang penting menyalurkan aspirasi. Hal itu menunjukkan tanggung jawab kita sebagai rakyat terhadap negara dan bangsa Indonesia. Saya sebagai orang pesantren, orang yang diberi amanah meneruskan perjuangan Wali Songo, dan Laskar Sabilillah ini, membebaskan kalian memilih siapapun Presidennya. Silahkan kalian pilih, jangan khawatir, pilih yang kalian setujui berdasarkan hati nurani kalian, mana yang kalian anggap cocok ya silahkan dipilih,” tegas Gus Abbas usai menghadiri Haul Wali Songo se-Nusantara di Ponpes Babussalam Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Sabtu (6/1/2024) petang.
Selanjutnya, kata Gus Abbas, setelah memilih pemimpin, jangan sampai menimbulkan perpecahan. “Karena pemilu ini adalah pesta demokrasi, kita diberi Allah anugerah untuk memilih Presidennya sendiri. Maka dari itu jangan terjadi perpecahan,” ujarnya.
Pendakwah yang sangat disegani ulama NU dan Banser ini membeberkan, pemilihan Presiden hanya pesta demokrasi lima tahun sekali. “Pilpres itu lima tahun sekali, jadi jangan dicantolkan dengan status keagamaan. Seperti contohnya, kalau memilih pemimpin ini seolah olah lebih islami dari pemimpin lainnya, jangan seperti itu. Kalau mau memperjuangkan Islam harus memilih pemimpin ini, jangan pilih yang itu, jangan lagi ada kata-kata seperti itu. Biarkan masyarakat memilih dengan hati nuraninya,” kata Gus Abbas.
Gus Abbas berharap masyarakat Indonesia diberi kebebasan untuk memilih pemimpinnya sendiri sesuai hati nuraninya. “Maka dari itu saya meminta para ulama, para kiai, hendaknya bersikap bijak, untuk menuntun masyarakat ini,” ucapnya.
Gus Abbas memandang, masyarakat sudah pasti punya pilihan yang berbeda-beda. “Nah bagaimana ini di dalam rangka menghadapi pilihan masyarakat yang berbeda beda, aspirasinya berbeda beda. Maka sebagai ulama, sebagai kiai yang juga memiliki hak, aspirasi, hak politik juga, kita harus tetap bijak menghadapi perbedaan di masyarakat. Jangan sampai ulama dan kiai bersikap, mengeluarkan statement, dimana statmen tersebut justru menimbulkan permasalahan di masyarakat,” tuturnya.
“Apalagi seumpama mohon maaf, ulama atau Kiai jadi tim suksesnya, atau apa, itu menurut saya mohon maaf ya, para ulama para kiai, gak usah lah itu. Karena itu akan menjadi preseden buruk ditengah masyarakat banyak,” sambung Gus Abbas.
Preseden yang kurang baik itu, lanjut Gus Abbas, karena kiai maupun ulama punya jamaah yang berbeda-beda, punya masyarakat yang berbeda beda. “Ini yang harus dipahami para ulama dan kiai. Sehingga, bolehlah panjenengan (Ulama dan Kiai-red) itu memiliki hak politik, memiliki hak memilih presiden, tapi jangan terlalu masuk kedalam. Karena kenapa, nanti seolah olah para ulama dan kiai terkesan dibawah telapak kaki orang orang yang punya kepentingan politik. Akhirnya jatuhlah muru’ahnya para ulama dan kiai,” terangnya.
Gus Abbas menyebut, masyarakat yang pilihannya beda, tidak sama dengan kiainya, nantinya akan terjadi polemik. Terjadi friksi. Sehingga ulama dan kiai harus bijak menghadapi Pilpres 2024.
“Saya juga punya aspirasi politik, saya punya hak memilih presiden, tapi tidak bijak kalau saya ucapkan. Tapi saya hanya akan mengatakan, kalian semua seluruh rakyat Indonesia, pilihlah Presiden, siapapun Presidennya pilihlah yang sesuai dengan hati nurani kalian. Jangan khawatir anda memilih siapapun anda tetap Islam, karena agama anda Islam, yang memilih Islam yang dipilih juga agamanya Islam. Sehingga tidak ada lagi framing-framing masalah keagamaan, jangan, karena itu hanya akan membuat rakyat bingung, rakyat akhirnya jadi bermusuhan,” tegasnya.
Gus Abbas juga menafsirkan jika posisi penguasa atau pemerintah, ibarat hakim hakim yang harus mengurusi rakyatnya. Sementara ulama dan kiai, hakim atas penguasa. “Jadi ulama dan kiai itu posisinya ada diatas. Disinilah yang harus dipahami. Siapapun presidennya para ulama dan kiai harus tetap berada diatas posisinya, karena kita hidup ini di bimbing para ulama dan kiai,” ujarnya.
Maka dari itu, tambah Gus Abbas, sudah sepantasnya para ulama, tidak menjatuhkan dirinya dibawah panggung panggung politik yang terkadang cukup membingungkan masyarakat. “Perjuangan politik itu penting, tapi ada caranya. Kekuatan politik itu tidak harus milih ini, milih itu, kalau gak memilih ini dianggap bertentangan, menganggap santrinya murtad misalkan. Kalau gak milih ini gak bela Islam, jangan sampai seperti itu. Tidak usah begitu, kita ini memilih presiden lima tahun sekali. Kita harus bijak. Jangan sampai terjadi puing-puing perpecahan setiap lima tahun sekali. Maka dari itu para ulama dan kiai yang punya banyak pengikut, harus bijak dalam menyikapi pemilihan presiden,” Gus Abbas mengakhiri. (yog/kun)






