Surabaya (beritajatim.com) – Dewan Pakar Muslimat NU Jawa Timur, Dwi Astutik menyebut ada salah satu tantangan besar yang menghadang mimpi presiden Jokowi dan presiden terpilih Prabowo Subianto dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Tantangan itu adalah tingginya angka stunting yang tersebar hampir merata di sejumlah daerah di Indonesia.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting di Jatim masih di posisi 17,7%.
Angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2022. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), persentase stunting di Jawa Timur tahun 2022 tercatat 19,2%.
Meskipun angka ini lebih rendah dari survei secara nasional yang mencatat prevelensi stunting di Indonesia masih 21,6 persen.
Hal itu diungkapkan Dwi Astutik usai menjadi pembicara workshop pembuatan skenario dan produksi film pendek – permasalahan stunting dan solusinya di Gedung Kartini Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jatim, Kamis (23/5/2024).
“Mau tidak mau, suka atau tidak suka kita semua harus bergandengan tangan untuk membantu pemerintah melalukan aksi nyata guna mencegah tumbuh kembangnya stunting di Indonesia,” ujar Dwi Astutik.
Dia menekankan pentingnya peran semua stakeholder dalam mengatasi masalah tersebut. Mengingat dampak yang ditimbulkan bisa mengancam generasi dan masa depan Indonesia.
“Stunting ini masalah serius yang mendunia termasuk lndonesia,” tegas Dwi Astutik yang juga Dewan Pakar Muslimat Jatim ini.
Penderita stunting, lanjut dia, akan mengalami peningkatan morbiditas dan penurunan kekebalan sistem imun dan peningkatan resiko infeksi.
“Kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. Maka dari itu harus bisa dicegah sejak dini karena dampaknya yang begitu serius,” terang dia.
Peraih Doktor ilmu Pengembangan Sumber Daya Manusia Universitas Airlangga Surabaya ini menyebut efek jangka panjang stunting bisa menyebabkan kegagalan seorang anak mencapai potensi kognitif dan kemampuan fisiknya.
“Kalau sudah demikian, pasti akan mempengaruhi kapasitas kerja dan status sosial ekonomi masa depan mereka. Karena itu harus dicegah,” ujar dia dihadapan pelajar SMA, SMK negeri dan swasta di Jatim ini.
Berdasar alasan itulah Dwi Astutik yang juga Dosen Universitas Sunan Giri Surabaya tersebut sangat mengapresiasi program Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka yang sejak awal akan memberikan makanan dan susu gratis bagi seluruh siswa-siswi di Indonesia.
Menurut dia, pemberian makanan gratis dan susu bagi anak anak, akan mempengaruhi kualitas dan produktifitas bagi tumbuh kembangnya para pelajar Indonesia.
“Sungguh kami yang sudah lama berjuang melawan stunting, melakukan pemberdayaan anak anak Indonesia, termasuk membina anak-anak jalanan, bersyukur Pak Prabowo mempunyai gagasan dan program kemanusiaan seperti itu,” kata dia,
Kekurangan gizi kronik, lanjutnya, berhubungan dengan status sosio-ekonomi rendah, asupan nutrisi, dan kesehatan ibu yang buruk, riwayat sakit berulang dan praktik pemberian makan para bayi atau anak tidak tepat. [asg/ian]






