Surabaya (beritajatim.com)- Dulu, bermain game sering dianggap sebagai aktivitas yang menghabiskan waktu. Orang tua memberi teguran, guru memberikan peringatan, bahkan banyak orang di masyarakat berpendapat bahwa gamer hanya orang yang malas yang tinggal di dunia virtual. Akan tetapi, pandangan tersebut sekarang mulai berubah. Dunia game dan esport secara bertahap menjadi bidang pekerjaan yang menjanjikan, terutama di kalangan generasi muda.
E-Sport: Lebih dari Sekadar Bermain Game
E-Sport (olahraga elektronik) merupakan kompetisi game profesional yang saat ini dianggap sebagai disiplin olahraga elektronik. Game-game seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, Valorant, dan Dota 2 berfungsi sebagai “arena” untuk para pemain yang menunjukkan keterampilan, strategi, dan refleks. Mereka tak hanya bermain untuk hiburan, tetapi untuk berkompetisi, mencapai keberhasilan, dan memperoleh penghasilan.
Tim-tim profesional seperti EVOS, ONIC, RRQ, dan Bigetron berfungsi sebagai “klub sepak bola”-nya industri game. Pro player dilatih, dibentuk, bahkan memiliki pelatih dan manajer. Banyak dari mereka yang mendapatkan jutaan rupiah, bahkan miliaran dari kompetisi, sponsor, dan konten digital.
Karier di Balik Layar Permainan
Karier di industri game tidak hanya terbatas pada atlet profesional. Terdapat banyak posisi lain yang memiliki kepentingan yang sama, seperti:
1. Streamer & Kreator Konten: Menghasilkan konten bermain game di YouTube, TikTok, atau melakukan siaran langsung di platform seperti Twitch dan Nimo TV.
2. Caster/Pembawa Acara Esport: Mirip dengan komentator dalam sepak bola, caster menyajikan narasi menarik selama pertandingan esport.
3. Pelatih Tim Esport: Merancang taktik tim, menilai permainan musuh, dan menggali kemampuan pemain.
4. Desainer Permainan & Pengembang: Individu di belakang layar yang merancang dunia maya yang kita nikmati.
5. Penyelenggara Acara: Mengelola turnamen esport, baik di tingkat lokal maupun global.
6. Manajer Tim: Mengatur jadwal, anggaran, kesepakatan, serta kesejahteraan atlet
Kendala dalam Dunia Esport
Walaupun terdengar mengasyikkan, karier di industri game dan esport tidak sebanding dengan yang terlihat. Para atlet profesional perlu menjalani latihan berjam-jam setiap hari, mempertahankan performa, dan siap menghadapi tekanan dari publik serta persaingan yang sengit. Usia puncak pemain pro juga tergolong singkat, umumnya hanya bertahan hingga pertengahan usia 20-an.
Selain itu, masyarakat masih terpengaruh oleh stigma negatif. Tidak semua orang menganggap esport sebagai “pekerjaan serius”, sehingga pendidikan masyarakat masih sangat diperlukan.
Mengalihkan Hobi Menjadi Pekerjaan
Bagi kamu yang suka bermain game, bukan hal yang mustahil untuk menjadikannya sebagai karier. Akan tetapi, komitmen, disiplin, dan kreativitas tetap diperlukan. Bermain game tidak hanya berkaitan dengan keterampilan, tetapi juga mengenai konsistensi dalam membangun merek pribadi, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta keinginan untuk terus belajar mengikuti evolusi industri game.
Banyak cerita sukses berawal dari hobi yang sederhana: bermain game di warnet, mabar di rumah, atau iseng siaran langsung di TikTok. Yang membedakan adalah tujuan, usaha, dan keuletan.
Dunia permainan dan esport bukan hanya arena untuk bermain. Ia telah menjadi ekosistem yang luas, memberikan beragam kesempatan karier untuk generasi muda. Dulu saat ditanya “main game terus mau jadi apa?”, sekarang jawabannya bervariasi: menjadi atlet esport, pembuat konten, komentator, pelatih, atau bahkan CEO tim esport. Masa depan sektor ini masih sangat terbuka. Mungkin, salah satu di antara mereka adalah kamu. [Nazala Habibah Fathyadin]






