Ringkasan Berita:
- Kebakaran hebat melanda dua bangunan di Banyu Urip Kidul, Sawahan, Surabaya.
- Pelajar SMP bernama Azzam meninggal dunia saat berusaha menyelamatkan neneknya.
- Kebakaran diduga dipicu korsleting pengisi daya sepeda listrik.
- Warga mengenang Azzam sebagai anak baik dan sangat dekat dengan sang nenek.
Surabaya (beritajatim.com) – Peristiwa memilukan terjadi di kawasan Banyu Urip Kidul, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Senin (25/5/2026) malam. Dua bangunan di gang sempit selebar tiga meter dilalap api yang diduga berasal dari korsleting pengisi daya sepeda listrik.
Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga merenggut nyawa seorang pelajar SMP yang berusaha menyelamatkan neneknya dari kobaran api.
Dua bangunan yang terbakar masing-masing berada di nomor 50 dan nomor 34. Bangunan nomor 50 digunakan sebagai toko sembako di lantai bawah dan kamar kos di lantai atas. Sementara bangunan nomor 34 difungsikan sebagai rumah sekaligus bengkel sepeda listrik.
Malam itu, suasana kampung padat penduduk berubah mencekam. Kobaran api membesar disertai teriakan warga dan suara sirene mobil pemadam kebakaran yang bersahutan di kawasan Banyu Urip Kidul.
Di tengah situasi kacau tersebut, Muhammad Azzam Rizki Pratama (14), putra pemilik rumah bernama Dwi Priyo, memilih bertahan demi menyelamatkan neneknya, Suamah, yang berusia 72 tahun.
Alih-alih menyelamatkan diri lebih dulu, siswa kelas 1 SMP itu justru menerjang asap pekat untuk membantu sang nenek yang sudah kesulitan berjalan cepat.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 22.30 WIB. Warga sekitar sempat mendengar suara ledakan keras yang diduga berasal dari korsleting saat pengisian daya baterai sepeda listrik. Ledakan itu memicu percikan api besar yang dengan cepat membakar empat sepeda motor di teras rumah.
Saat api mulai menjalar ke dalam rumah, Azzam berada di ruang tengah. Ia sebenarnya masih memiliki kesempatan menyelamatkan diri melalui tangga menuju lantai dua.
Namun remaja yang diketahui bersekolah di SMP Negeri 46 Surabaya itu memilih kembali masuk demi menyelamatkan neneknya.
Tubuh kecil Azzam membopong Suamah menuju kamar mandi di lantai satu yang dianggap lebih aman dari kobaran api. Setelah memastikan neneknya berada di lokasi tersebut, Azzam mencoba menyelamatkan diri menuju tangga lantai dua.
Sayangnya, kobaran api lebih cepat mengepung bangunan berukuran 3×12 meter persegi tersebut. Asap pekat dan hawa panas dari bara api membuat kondisi di dalam rumah seperti jebakan maut.
Azzam akhirnya masuk ke kamar mandi dalam kondisi lemas hingga pingsan. Petugas pemadam kebakaran kemudian menemukan Azzam dan neneknya sudah dalam keadaan meninggal dunia.
“Dia (Azzam) memang dekat dengan neneknya. Disayang sekali memang. Mungkin itu yang membuat dia (Azzam) nyelametin neneknya dulu. Dia seharusnya bisa lah (selamat),” kata Satrio, salah satu tetangga yang ikut membantu memadamkan api.
Warga lainnya bernama Dimas mengatakan api langsung membesar setelah terdengar suara ledakan sehingga penghuni rumah tidak sempat keluar menyelamatkan diri.
“Api memang langsung besar dan penghuni rumah sedang di dalam semua. Jadi kayak terjebak mas,” jelasnya.
Dimas mengenang Azzam sebagai sosok anak yang baik, rajin membantu keluarga, dan sangat dekat dengan neneknya. Sepulang sekolah, Azzam disebut hampir selalu membantu menjaga toko sembako bersama ibu dan neneknya.
“Anaknya baik sekali mas. Sopan sama orang tua,” terang Dimas.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini, menjelaskan proses pemadaman sempat terkendala akses jalan yang sempit.
“Lebar gang hanya tiga meter. Unit besar tidak bisa masuk. Sehingga kita tarik selang berjarak hingga 60 meter ke unit pemadam,” ujarnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti kebakaran yang menewaskan dua orang tersebut. [ang/beq]






