Blitar (beritajatim.com) – Estafet kepemimpinan di tubuh Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Blitar resmi bergulir. Melalui forum Konferensi Cabang (Konfercab) yang berlangsung dinamis dan khidmat di Kantor Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar pada 1–2 Juni 2026, Bung Adrian Nugraha dan Bung Fico resmi ditetapkan sebagai nahkoda baru organisasi berlambang banteng tersebut.
Adrian Nugraha akan mengemban amanah sebagai Ketua DPC GMNI Blitar periode terbaru, didampingi oleh Fico yang dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris.
Konfercab kali ini tidak hanya sekadar menjadi forum regenerasi biasa, melainkan momentum krusial yang sarat legitimasi. Jalannya musyawarah tertinggi di tingkat cabang ini dikawal langsung oleh perwakilan struktur organisasi dari tingkat nasional maupun provinsi.
Hadir dalam forum tersebut Bung Lalu Amar (Wakil Ketua Bidang Reforma Agraria DPP GMNI), mewakili Dewan Pimpinan Pusat di bawah kepemimpinan Risyad-Patra. Selain itu ada pula Bung Lucky Andhara (Ketua Bidang Pengabdian dan Pemberdayaan Desa DPD GMNI Jawa Timur), yang turun langsung mengawal dinamika forum.
Kehadiran para fungsionaris teras ini menegaskan dukungan penuh sekaligus legalitas formal atas struktur kepemimpinan baru yang lahir di Bumi Bung Karno ini.
Latar belakang duet kepemimpinan baru ini membawa angin segar sekaligus representasi kekuatan akademis di Blitar. Adrian dan Fico merupakan mahasiswa aktif dari dua perguruan tinggi ternama di daerah tersebut, yaitu Universitas Islam Balitar (Unisba) dan Universitas Nahdlatul Ulama (Unu) Blitar.
Kombinasi ini dinilai strategis dalam menjawab tantangan zaman. Sebagai mahasiswa aktif, keduanya diharapkan mampu membawa GMNI Blitar bergerak lebih adaptif, lincah, dan responsif terhadap isu-isu kontemporer yang berkembang di dunia kemahasiswaan maupun masyarakat luas.
Usai resmi ditetapkan sebagai Ketua Terpilih, Adrian Nugraha langsung menegaskan garis perjuangan yang akan diusung kepengurusannya ke depan. Ia berkomitmen penuh untuk mengembalikan marwah GMNI sebagai wadah kader bangsa yang berkarakter progresif revolusioner.
“GMNI harus hadir di tengah-tengah masyarakat, merasakan penderitaan mereka, dan berjuang bersama mereka. Kami akan membawa DPC GMNI Blitar semakin militan untuk mengabdi pada rakyat kecil,” ujar Adrian dalam pidato pertamanya.
Di bawah komandonya, GMNI Blitar diproyeksikan tidak hanya menjadi organisasi menara gading, melainkan instrumen perjuangan yang konkret bagi kaum marhaen yang membutuhkan pembelaan.
“Kami siap menjadi penyambung lidah rakyat yang sejati, sesuai dengan ajaran dan ideologi marhaenisme yang diwariskan oleh Bapak Bangsa kita, Bung Karno,” tegas Adrian menutup pernyataannya.
Dengan nakhoda baru yang bertenaga, DPC GMNI Blitar kini bersiap memulai babak baru pergerakan yang lebih merakyat, progresif, dan membumi di tanah tempat sang proklamator disemayamkan. (owi/but)






