Ngawi (beritajatim.com) – Warga Ngawi mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram sejak dua pekan terakhir. Kelangkaan ini membuat harga gas elpiji melambung tinggi, dari Rp18.000 hingga Rp22.000 per tabung.
Salah satu warga yang mengeluhkan kelangkaan gas elpiji adalah Daim, pedagang soto di Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Ngawi. Daim mengaku sudah berkeliling ke beberapa toko, namun tidak ada yang menjual gas elpiji.
“Saya sempat berkeliling, tapi gak dapat. Ya terpaksa mungkin hari ini gak jualan dulu ya,” kata Daim.
Warga lainnya, Nana Pujiastuti, akhirnya memilih memasak menggunakan kayu bakar karena tidak bisa mendapatkan gas elpiji. Nana mengaku biasanya tidak sering menggunakan kayu bakar untuk memasak.
“Susah ya akhir-akhir ini elpiji itu. Harganya naik jadi Rp21.000 ada juga yang Rp22.000. Terpaksa saya pakai kayu bakar, pakai arang juga buat masak,” kata Nana.
Baca Juga: Elpiji 3 Kg di Magetan Langka, Ini Dugaan Penyebabnya
Kelangkaan gas elpiji juga terjadi di sejumlah pangkalan. Pengelola pangkalan mengaku, ada pengurangan jatah pengiriman dari agen.
“Terjadi pengurangan pengiriman. Dari 200 tabung awalnya, kini jadi 150 tabung saja. Bahkan terakhir hanya 100 tabung. Harga sebenarnya tetap ya kalau di kami, kasihan warga tapi, banyak yang bingung karena gak dapat,” kata Heri Siswanto, salah seorang pemilik pangkalan gas elpiji di Ngawi.
Warga berharap kelangkaan gas elpiji segera teratasi agar mereka bisa mendapatkan gas elpiji dengan mudah dan murah.
Presiden Jokowi Soal Kelangkaan Elpiji
Sementara itu Presiden Joko Widodo dalam kunjungan ke Kabupaten Malang, Selasa (25/7/2023) kemarin menyatakan bahwa kelangkaan tersebut akibat diperebutkan di lapangan. ” Elpiji yang bersubsidi itu hanya diperuntukkan untuk kalangan tidak mampu,” kata Jokowi. Namun soal lebih jelasnya terkait kelangkaan tersebut menteri BUMN yang akan menjelaskan. (ted)






