Anies Rasyid Baswedan melakukan safari senyap di Jawa Timur. Kandidat presiden yang diusung Partai Nasional Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat ini mengunjungi sejumlah lokasi, antara lain Pondok Pesantren Langitan di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban; Kabupaten Magetan; makam Bung Karno di Blitar; dan sebuah rumah di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.
Sejak awal Ramadhan, Anies berkunjung ke setidaknya 25 kota dan kabupaten. “Selama awal Ramadan hingga saat ini, saya menjalani tirakat yang kini berujung di Tegalsari,” ungkap Anies Baswedan di hadapan awak media, Kamis (13/04/2023).
Moch. Eksan, penulis buku Kerikil di Balik Sepatu Anies, menyebut safari itu sejatinya adalah jalan pulang Anies ke tanah leluhur di Jawa Timur. Ini bukan sekadar urusan politik. Ada dua pemaknaan terhadap safari itu, yakni upaya untuk mendengarkan aspirasi rakyat dan sebuah ikhtiar untuk meneguhkan kembali ikatan kultural yang lama terbangun dan menjadi bagian dari sejarah personal Anies.
Pesantren menjadi titik perhatian Anies, karena pentingnya posisi pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan, dan lembaga pemberdayaan masyarakat. “Semua itu dimaknai untuk ngangsu kaweruh soal-soal yang berkaitan dengan berbagai hal, termasuk soal pesantren. Dia ingin mendalami kira-kira apa yang akan dilakukan jika ditakdir Allah untuk menjadi presiden Republik Indonesia 2024-2029,” kata Eksan.
Khusus pesantren, banyak aspirasi yang berkembang setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. “Ini bukan undang-undang macan kertas. Tapi secara afirmatif harus ada kebijakan yang mendukung peningkatan peran dan kualitas partisipasi pesantren dalam pembangunan nasional kita,” kata Eksan.
Safari senyap Anies ini melengkapi upaya komunikasi intensif dengan kalangan nadhliyyin. Sebelumnya sejumlah kiai dan ulama diundang ke Nasdem Tower untuk bertemu. Sebagai seorang yang banyak bergerak di bidang pendidikan, Anies memahami bahwa pesantren adalah soko guru pendidikan di Indonesia.
“Semua perguruan tinggi di Indonesia jauh lebih muda daripada pesantren-pesantren besar yang sudah lama mengakar. Semua mengakui bahwa Islamic boarding school seperti pesantren lebih efektif daripada fullday school,” kata Eksan.
Anies ingin menjadikan pesantren kekuatan inti pendidikan nasional. “Beliau ingin back to basic tanpa mengabaikan inovasi dan kreasi agar pesantren tumbuh dan berkembang lebih besar daripada hari ini,” kata Eksan.
Kepedulian Anies terhadap dunia pesantren sudah ditunjukkannya saat menjadi gubernur DKI Jakarta. “Dia merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus untuk semua anak usia sekolah (6-21 tahun), yang juga dapat digunakan untuk Kelompok Belajar Paket A, B dan C, pendidikan madrasah, pondok pesantren, dan kursus keterampilan, serta dilengkapi dengan bantuan tunai untuk keluarga tidak mampu,” kata Eksan.
Tak hanya urusan pendidikan, dari pertemuan dengan para kiai dan kalangan pesantren, Anies juga menyerap isu-isu sosial di luar masalah keagamaan, seperti isu sektor pertanian. “Orang-orang pesantren juga mengeluhkan harga pupuk yang mahal dan harga produk pertanian yang turun ketika panen raya.Beliau menyerap itu semua,” kata Eksan.
Makna kedua, menurut Eksan, adalah meneguhkan kembali ikatan kultural yang lama terbangun dan menjadi bagian dari sejarah personal Anies di Jawa Timur. “Pak Anies ini ini secara kultural amaliahnya nahdliyin banget seperti kebiasaan beliau berkunjung ke beberapa daerah dengan berziarah ke makam para tokoh dakwah atau tokoh syiar Islam,” katanya.
Ini membalik anggapan yang seringkali mengaitkan Anies dengan gerakan Islam transnasional. “Dia selalu jadi sasaran. Satu sisi dituduh wahabi, satu sisi dituduh syiah. Mana ketemu wahabi dan syiah? Itu kan dua ideologi yang bersaing secara sosial dan politik. Beliau menegaskan, bahwa paham keagamaannya adalah ahlussunnah wal jamaah. Mana ada wahabi suka ziarah?” katanya.
Ideologi ahlussunnah wal jamaah ini semakin tampak jika merunut jejak keluarga besar Anies, sebagaimana diakui mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqiel Siradj. Anies adalah keturunan dari keluarga pendakwah dan pahlawan nasional. “Komitmen kebangsaannya tak perlu diragukan. Tak perlu diragukan keberpihakannya terhadap bangsa ini,” kata Eksan.
Eksan melihat safari ini merupakan bagian dari upaya mendekatkan kultur Anies dengan pemikiran kalangan pesantren. Anies adalah generasi kelima keluarga Baswedan di Indonesia. Kakek buyutnya, generasi pertama Baswedan, Umar Baswedan diakui memiliki kontribusi terhadap dakwah Islam di Indonesia, terutama di Jawa Timur.
“Beliau (Umar Baswedan) tinggal di Ampel, Surabaya. Jadi leluhur Pak Anies ini adalah orang Jawa Timur. Abdurrahman Baswedan lahir di Ampel. Tapi karena situasi perjuangan saat itu, terutama pada saat perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta, Abdurrahman Baswedan tinggal di Yogya bersama keluarganya, sehingga diidentikkan dengan Yogya,” kata Eksan.
Anies sendiri lahir di rumah ibunya, di Kuningan, Jawa Barat. “Jadi keluarga besar beliau hidup dan tinggal di Ampel, Surabaya. Kemudian era transisi kemerdekaan tinggal di Yogyakarta, dan beliau lahir di Kuningan. Jadi akar kultur beliau adalah Jawa secara umum. Beliau berbicara bahasa Jawa halus bagus sekali,” kata Eksan.
Dua makna ini membuat safari senyap Anies ini tak bisa dipandang sebelah mata oleh para kompetitor politiknya. Menurut Eksan, Anies adalah sosok yang banyak disalahpahami. Dengan memperkuat kembali memori tentang jejak sejarah keluarganya di Jatim, Anies tengah menaklukkan kesalahpahaman itu. [wir]






