Situbondo (beritajatim.com) – Kandidat capres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan dalam akun instagram pribadinya mengungkapkan duka cita untuk Raharja Waluya Jati. Jati merupakan aktivis yang idealismenya tidak pernah luntur.
Jati juga menjabat Sekjen Sekretariat Kolaborasi Indonesia (SKI) yang merupakan tim relawan Anies Baswedan.
Berikut tulisan Anies di Instagram Pribadinya @aniesbaswedan :
“Jati meninggal jam 5 pagi ini di RSCM,” begitu bunyi pesan yg datang pagi ini. Duka cita itu kembali terkabarkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un tulis Anies di instagram @aniesbaswedan.
Raharja Waluya Jati, nama lengkapnya. Dia seorang aktivis yang idealismenya tak pernah luntur. Saya kuliah di Fakultas Ekonomi, Jati di Fakultas Filsafat UGM. Kami bersahabat walau sering berdebat dan berbeda pandangan saat masa kuliah. Dalam 10 tahun terakhir ini kami berjuang bersama, sepemikiran dan bergerak bersama.
Jati adalah salah satu korban penculikan aktivis mahasiswa tahun 1998. Siksaan tak berbatas, mulai jerat cekikan kabel di leher hingga setruman listrik tanpa henti. Ia sempat trauma jika ada urusan dengan listrik.
Tapi semua kita mencatat dan rasa hormat: Penyiksaan yg dialaminya itu tak pernah sanggup menghentikan semangatnya. Semangatnya utk Indonesia yang lebih baik tak pernah surut. Dia wafat saat sedang berjuang, sedang pada semangat tertingginya. Husnul khatimah, insyaAllah.
Baca Juga: Aktivis 98 Korban Penculikan Raharja Waluya Jati Meninggal
Berurutan, Allah panggil pulang pribadi-pribadi pejuang, penuh idealisme. Tapi yakinlah, masih berderet panjang pribadi-pribadi yang akan meneruskan estafet perjuanganmu, untuk Indonesia yang kita cintai ini.
“Sahabatku Jati, pagi ini dari tanah Situbondo, kukirimkan Al-Fatihah terbaikku padamu,” tulis Anies.
Saat disemayamkan di rumah duka RSCM, tokoh dari berbagai kelompok politik turut hadir dalam deretan pelayat. Mulai dari mantan menteri ESDM Sudirman Said, wamen kominfo Nezar Patria, ketua komisi VI DPR Faisol Reza, analis politik Hendri Satrio, pegiat sosial Dadang Juliantara, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, hingga pegiat medsos Ulin Ni’am Yusron dan banyak aktivis lainnya.
Pada 1998, Rahardjo Waluyo Jati adalah aktivis muda dari PRD dan Jaringan Kerja Rakyat (Jaker). Pada 12 Maret 1998, usai menghadiri acara di YLBHI, Jati dan Faisol Riza diikuti sejumlah orang.
Mereka berdua lari sampai naik ke lantai 2 UGD RSCM, sambil berteriak-teriak. Djati terpojok di WC dan tertangkap oleh penculik. Dia dimasukkan ke mobil, diinjak kepalanya, dan ditutup kepalanya.
Jati diinterogasi mengenai keberadaan Andi Arief, Suyat, Bimo Petrus serta Amien Rais, Megawati, dan Gus Dur. Jati disetrum, dipukul, ditendang, ditidurkan di balok es, dan digantung lehernya. Dia dibebaskan pada 25 April 1998.(ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”anies-baswedan”]






