Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Buchori Imron mengkritik proyek pembangunan terowongan pejalan kaki penghubung Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) menuju Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mengungkapkan kekecewaannya terhadap proyek yang menelan anggaran sebesar Rp32 miliar tersebut.
“Saya tidak ikut membahas masalah itu karena sejak awal sudah kurang sepakat kalau pakai tunnel. Namun, jika Pemkot sudah menganggarkan dan proyek sudah berjalan, kita tunggu hasilnya saja nanti. Yang penting adalah bagaimana proyek ini bermanfaat untuk semua pihak,” ujar Buchori di DPRD Surabaya, Senin (8/7/2024).
Dia menyoroti risiko tinggi terkait perawatan dan keamanan terowongan. Selain itu, juga potensi bahaya bagi pengguna jalan di atasnya.
Buchori juga mengkritik peningkatan anggaran proyek yang signifikan dari tahun ke tahun tanpa adanya diskusi mendalam di Badan Anggaran DPRD. “Saya di anggaran tidak pernah ikut membahas itu, baik kenaikan anggarannya,” tegasnya.
Dia lebih menyarankan pembangunan jembatan layang (flyover) sebagai alternatif yang lebih efisien dan hemat biaya. “Secara pribadi, saya lebih sepakat jika dibangun by pass karena lebih menambah estetika kota dan lebih murah daripada underpass,” ungkapnya.
Selain itu, Buchori Imron juga menyoroti potensi pembengkakan anggaran proyek tunnel yang bisa menggeser alokasi anggaran dari sektor lain, terutama dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya yang bertanggung jawab atas drainase.
“Kalau anggarannya membengkak, pasti geser-geser ke anggaran lain. Jangan sampai anggaran yang dibutuhkan masyarakat tergeser untuk proyek tunnel ini,” tegasnya.
Sebagai solusi, Buchori menyarankan pembangunan jembatan layang atau fly over jalan kaki yang dianggapnya lebih efisien dan tidak memerlukan anggaran besar. Bahkan, fly over jalan kaki dapat menarik investor, serta tanpa memakan anggaran sampai puluhan miliar.
Imron juga mengingatkan pentingnya pengawasan dari Dinas Perhubungan dan KBS untuk menjaga keamanan di kawasan tersebut. Sebab perawatan instalasi listrik dan drainase air perlu diperhatikan. “Jika menggunakan tunnel, khawatirnya kurang penerangan dan keamanan bagi masyarakat berkurang,” kata dia.[ADV]






