Surabaya (beritajatim.com) – Anggota DPRD Surabaya, Muhammad Saifuddin, memberikan kritikan tajam terkait acara seremonial yang digelar oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan tema “Silaturahmi dan Tasyakuran Walikota dan Wakil Walikota Surabaya” pada Sabtu sore, 1 Maret 2025.
Saifuddin menilai acara tersebut tidak seharusnya digelar, apalagi di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang ditekankan oleh pemerintah pusat.
Saifuddin mengingatkan bahwa Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 menekankan pentingnya penghematan anggaran di segala lini pemerintahan. Ia menilai bahwa perayaan besar-besaran tersebut justru berseberangan dengan kebijakan yang mengutamakan efisiensi dan pengurangan kegiatan seremonial.
“Sore hari ini walikota akan mengadakan acara tasyakuran yang sepertinya besar-besaran, menurut kami ini berbanding terbalik dengan penerapan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025,” ujar Saifudin, Sabtu (1/3/2025).
Kritik tersebut semakin menguat lantaran acara seremonial seperti ini sering kali menggunakan anggaran daerah yang besar, padahal tidak memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Saifuddin menegaskan bahwa Pemkot Surabaya harus lebih bijak dalam menggunakan anggaran, apalagi dalam situasi ekonomi yang memerlukan penghematan. Ia menyarankan agar kegiatan seremonial tersebut dihentikan untuk mendukung kebijakan efisiensi anggaran.
“Terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan nanti, secara tidak langsung Walikota Surabaya justru tidak patuh terhadap Inpres tersebut, yang di dalamnya tercantum instruksi untuk menghapus kegiatan seremonial,” paparnya.
Lebih lanjut, Saifuddin juga menyoroti rencana Pemkot Surabaya yang berencana untuk meminjam dana sebesar Rp5,6 triliun guna membiayai pembangunan infrastruktur kota. Ia menyarankan agar dana tersebut lebih baik dialokasikan untuk pembangunan yang lebih mendesak daripada untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Apalagi pemerintah kota masih tetap berencana meminjam uang untuk pembangunan Kota Surabaya. Dari pada uang itu dihabiskan buat seremonial, lebih bijak disimpan untuk membangun kota dan kalau perlu tidak usah mengutang,” tegasnya.[asg/kun]






