Ponorogo (beritajatim.com) – Komisi D DPRD Ponorogo merasa prihatin dengan kenyataan banyaknya sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Ponorogo yang kekurangan siswa. Sebagai mitra kerja Dinas Peundidikan (Dindik) Ponorogo, Komisi D menyayangkan keadaan seperti ini selalu terjadi setiap tahun ajaran baru di bumi reog.
Komisi D manilai setiap penerimaan peserta didik baru (PPDB) adalah sebuah bentuk kerja yang hanya rutinitas yang dilakukan oleh Dindik Ponorogo. Akhirnya, orangtua tidak tertarik lagi untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.
“Para orangtua mungkin tidak mempunyai keinginan untuk menyekolahkan di sekolah negeri. Karena mungkin mereka menilai sekolah negeri sudah tidak punyah nilai lebih,” kata Sekretaris Komisi D DPRD Ponorogo, Relelyanda Solekha, Jumat (21/7/2023).
Menurut Lely, orang tua sekarang sudah pintar dan sudah banyak wawasan. Untuk itu, jajaran yang ada di Dindik harus membuka diri untuk bisa mengetahui kemajuan zaman.
“Zaman sudah berubah. Kami di Komisi D sering bilang saat rapat dengan Dindik. Ayo diupdate, ayo diperbaiki zaman sudah barubah.Pendidikan sudah barubah, jangan hanya melakukan rutinitas,” ungkap politisi dari PDI Perjuangan tersebut.
Kerja dari Dindik yang biasa, tidak menarik lagi untuk masyarakat sekarang. Itulah yang sering Lely sampaikan saat rapat dengan Dindik Ponorogo. Perlu adanya terobosan yang membuat masyarakat jatuh hati. Sehingga dengan secara sadar, mereka akhirnya mau menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.
“Dalam waktu dekat kita rapat internal dulu di Komisi D. Ke depan akan seperti apa terkait kekurangan siswa di sekolah negeriku ini,” katanya.
Lely mengaku Komisi D paling sering memanggil Dindik Ponorogo. Mulai dari masalah regrouping, kekurangan siswa, dugaan pungutan liar (pungli) di sekolah negeri, dan masalah-masalah di dunia pendidikan lainnya.
BACA JUGA:
Ratusan Warga Sawoo Geruduk Kejari Ponorogo, Tanyakan Dugaan Pungli
Namun, masalah kekurangan siswa ini, lagi-lagi terulang lagi terjadi setiap tahunnya. Bahkan baru-baru ini, ada sekolah negeri yang cukup berprestasinya malah hanya dapat 1 siswa.
“Kok bisa hanya 1 siswa dan kepala sekolah (kepsek) hanya menangis. Mungkin para guru dan kepseknya kurang kreatif, sehingga tidak bisa menarik perhatian dari para wali siswa,” pungkasnya. [end/beq]






