Jember (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, meminta pemerintah daerah bertindak tegas terhadap perusahaan yang merugikan pekerja. Investasi haruslah seiring dengan kemanusiaan.
“Investasi perlu. Tapi investasi yang memunculkan masalah, investasi yang tidak menghargai nasib buruh di pabriknya, perlu diambil tindakan tegas. Investasi yang tidak ada manfaatnya untuk rakyat Jember ngapain? Kalau hanya menyusahkan dan mengisap keringat rakyat Jember lebih baik disuruh pergi saja,” kata anggota Komisi A Nur Hasan, ditulis Sabtu (15/4/2023).
Perusahaan yang dinilai bermasalah adalah PT M. Nur Hasan sepakat untuk menutup perusahaan tersebut, karena sejak lama selalu terbelit konflik dan masalah dengan pekerja. “Kalau tidak salah enam tujuh tahun lalu, buruh demo menyegel pabriknya. Saya waktu itu di Komisi D, datang ke sana menemui teman-teman yang mogok. Beberapa hari kemudian bisa diselesaikan,” katanya.
Namun ternyata persoalan kembali berulang. PT M kembali melanggar hak-hak normatif pekerja. “Dari waktu ke waktu persoalan muncul terus di sana. Jadi tidak ada itikad baik dari perusahaan untuk menjalankan peraturan ketenagakerjaan. Sampai capek semuanya,” kata Nur Hasan. Terbaru, pekerja menuntut tunjangan hari raya jelang lebaran tahun ini. Serikat buruh menuntut upah yang belum terbayar juga.
Nur Hasan mengakui tak mudah untuk menutup sebuah perusahaan. “Tapi ini shock therapy kepada perusahaan yang sewenang-sewenang, semua atuiran perundang-undangan dilanggar, karyawan tidak diikutkan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Saat karyawan sakit karena kecelakaan kerja, mereka dihitung bolos. Ini persoalan,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, puluhan buruh mendatangi gedung DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (13/4/2023). Mereka mendesak Dewan menutup perusahaan berinisial PT M karena tak patuh terhadap norma-norma ketenagakerjaan.
Supiyan Sauri, pengawas ketanagakerjaan Dinas Kenaga Kerja (Disnaker) Koordinator Wilayah V Jawa Timur, juga setuju dengan usulan penutupan ini. “Mulai dulu PT M selalu bermasalah. Saya juga setuju kalau ditutup. Saya beberapa kali melakukan pertemuan, tapi tidak ada hasilnya karena saling lempar (tanggungjawab),” katanya. [wir]






