Malang (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dimas Fakhruddin, S.ST., M.Ds., mencatatkan prestasi membanggakan. Desain logo karyanya masuk dalam lima besar Sayembara Cipta Desain Logo Ibukota Nusantara (IKN).
Dimas menyebut gambaran logo yang dia buat merupakan rumah untuk masyarakat. “Maksudnya adalah, dapat menciptakan sinergi berkelanjutan. Sedangkan secara visual diambil dari proses transformasi pengembangan IKN yang sesuai dengan visi Indonesia tahun 2045 mendatang,” kata pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Desain Grafis Indonesia chapter Malang itu.
Konsep logo, kata Dimas, diangkat dari konsep Tridaya atau konsep cipta, rasa dan karsa. Dari Tridaya tersebut, juga mengambil karakter Indonesia sebagai negara agrikultur dan maritim, dengan keberadaan hutan maupun lautan yang ada di Kalimantan. Kemudian dari itu melahirkan tiga fase, yaitu menanam, merawat dan mengolah yang dimaknai sebagai sebuah upaya berkembang.
“Tridaya menjadi ide awal dari desain logo ini,” jelas dosen dari Departemen Industri Kreatif dan Digital ini saat diwawancarai secara daring, Selasa (11/4/2023).
Baca Juga:
Universitas Brawijaya Malang Luncurkan Aplikasi Atria
Bentuk logo IKN yang ia buat mengambil konsep dari Tridaya yang ada di nusantara. Kemudian dia bersama tim mengambil konsep Tridaya dan Indonesia selain disebut negara maritim juga disebut negara agrikultur. Di Kalimantan banyak tumbuhan banyak hutan dan juga laut.
“Akhirnya saya ambil untuk pengaplikasiannya agar tetap menjadi 3 fase lagi yaitu menanam, merawat, dan mengolah untuk jadi logonya memang merepresentasikan sebuah upaya untuk berkembang dan dari situlah jadi ide awalnya,” jelasnya.

Ada tiga warna utama desain ini, yaitu hijau, emas dan jingga. Hijau sebagai inspirasi utama, yang menggambarkan hutan lindung di Kalimantan. Emas adalah lambang IKN sebagai cikal bakal role model kota dunia. Kemudian warna Jingga menggambarkan kebersamaan atau sinergi berkelanjutan, antara stakeholder, masyarakat dan pemerintah.
Pada proses pembuatanya, Dimas mengaku jika ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh satu orang researcher dan copy writer, dan dua orang desainer grafis.
Baca Juga:
Universitas Brawijaya dan Pengusaha Nahdliyin Bertekad Cetak 1000 Mahasiswa Berwirausaha
“Ide besarnya memang dari saya, lalu kami diskusikan sampai menghasilkan konsep tridaya dan 3 fase. Durasi pengerjaannya secara efektif mulai pertengahan Oktober lalu, secara efektif 3 hingga 4 bulan dan selama pembuatan kita ada pendampingan dari tim kurator yang isinya para ahli dari otorita IKN dan ADGI pusat,” terang alumni Institut Teknologi Bandung itu.
Dosen Vokasi UB itu mengaku jika menjadi finalis, bukanlah perkara mudah. Dia harus bersaing dengan 500 peserta lain sampai terpilih hanya 5 besar saja. Salah satu tantangan terberatnya adalah agar logo tersebut bisa digunakan sampai 20 tahun mendatang.
“Tantangannya, logo ini bisa dan benar-benar terasa saat 2045 nanti. Jadi, bagaimana caranya logo ini relevan sampai 20 tahun lagi dan seterusnya, dan tetap terinspirasi dari Pancasila untuk dapat menggambarkan dan mewakili sisi kelanjutan dan kebersamaan berbentuk segi lima sebagai bentuk inti logo,” pungkas Dimas. [dan/beq]






