Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) Malang meluncurkan aplikasi bernama Atria. Aplikasi berbasis ponsel pintar tersebut mampu mengatasi penyakit gagal jantung. Pada acara tersebut UB melalui Pusat Studi (PS) Kardiovaskular yang dibawahi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) juga mengadakan acara bedah buku ‘Gagal Jantung: Perawatan Mandiri dan Multidisiplin’.
Prof dr M Saifur Rohman, SpJP (K), PhD mengatakan, salah satu manfaat aplikasi tersebut adalah untuk mengurangi rehospitalisasi. Selain itu, aplikasi itu juga dapat mengurangi kematian akibat gagal jantung.
“Aplikasi Atria untuk early warning system, atau screening bagi pasien apakah harus segera ditangani atau tidak. Kebanyakan pasien gagal jantung langsung pergi ke rumah sakit. Padahal, setelah diperiksa dia hanya butuh untuk rawat jalan,” katanya, Jumat (10/3/2023).
BACA JUGA:
Penyakit Jantung Masih Penyebab Utama Kematian di Indonesia
“Luaran utama dari kegiatan ini adalah menginisiasi kolaborasi interprofesi untuk mengkonsep perawatan mandiri pasien gagal jantung,” lanjutnya.
Sementara itu, terkait buku berjudul ‘Gagal Jantung: Perawatan Mandiri dan Multidisiplin’, Prof Saifur mengaku bahwa buku ini disusun oleh para ahli di bidang kesehatan jantung, yang tergabung dalam PS Kardiovaskular UB. Buku tersebut, menjelaskan tentang dasar-dasar penyebab gagal jantung dan cara perawatan mandiri pasien maupun keluarga pasien.
“Buku ini menggambarkan strategi perawatan gagal jantung dengan detail dan komprehensif, yang meliputi tatalaksana multidisiplin bagi tenaga kesehatan dan pembagian tugas dalam tim multidisiplin. Buku ini juga menjelaskan aspek perawatan paliatif pasien gagal jantung,” kata Prof Saifur.
BACA JUGA:
Kasus Kematian Akibat Jantung Tinggi, RSSA Perkuat Layanan
Menurut dosen Fakultas Kedokteran UB itu, saat ini di Indonesia aspek perawatan paliatif masih minim. “Buku ringkas tersebut mampu menjawabnya, dan juga secara isi mudah dipahami oleh berbagai kalangan, baik tenaga kesehatan maupun pasien,” pungkasnya.
Saat acara peluncuran minggu lalu, turut hadir perwakilan organisasi lintas profesi seperti PERKI Malang, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya, psikolog Klinis (IPK), Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), perwakilan organisasi profesi diantaranya perawat (PPNI), ahli gizi (PERSAGI), ahli farmasi/Apoteker (PAFI/IAI), dan BPJS Kesehatan. [dan/suf]






