Surabaya (beritajatim.com) – Generasi Z kerap dicap malas dan sulit beradaptasi di dunia kerja. Namun, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dimas Aryo Wicaksono menilai anggapan itu lebih banyak lahir dari stereotip ketimbang fakta.
“Kalau merujuk Gen Z itu problematik, saya pikir ini lebih pada stereotip. Tergantung kacamata mana yang kita pakai,” ujarnya, dikutip Kamis (28/8/2025).
Menurut Dimas, penilaian bias sering muncul karena kecenderungan membandingkan generasi baru dengan pengalaman generasi sebelumnya. Dalam psikologi, hal itu disebut mirroring. Padahal, setiap generasi memiliki karakteristik berbeda.
“Idealisme khas Gen Z justru bisa menjadi darah segar bagi perusahaan. Mereka sudah terbiasa dengan dunia digital,” tambahnya.
Tantangan dan Harapan
Sebagai digital native, Gen Z dinilai memiliki keunggulan di bidang teknologi dan kreativitas. Karena itu, kata Dimas, perusahaan perlu memandang mereka sebagai individu dengan keunikan masing-masing, bukan sekadar kelompok pekerja.
Ia menambahkan, kesenjangan ekspektasi juga perlu dikelola dengan bijak. Generasi sebelumnya menekankan loyalitas jangka panjang, sementara Gen Z cenderung menginginkan fleksibilitas, work-life balance, dan kebermaknaan.
“Gen Z cenderung bersifat transaksional. Komunikasi dua arah sejak awal sangat penting agar ekspektasi perusahaan dan karyawan sejalan,” jelasnya.
Kolaborasi Lintas Generasi
Dimas menekankan, perusahaan tidak bisa menyamaratakan gaya kerja. Lingkungan suportif, kepemimpinan adaptif, serta pendekatan personal akan membuat Gen Z lebih betah.
Namun, ia mengingatkan Gen Z juga harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas. “Generasi Z perlu menghargai kontribusi generasi pendahulu. Jangan hanya menuntut dipahami, tetapi juga memahami budaya dan prinsip yang berlaku di perusahaan,” tegasnya.
Menurutnya, komunikasi dua arah dan kolaborasi lintas generasi menjadi kunci harmoni di tempat kerja. “Seperti aliran air yang mampu membentuk batu keras, idealisme anak muda bisa diwujudkan secara konsisten tanpa harus frontal menentang generasi sebelumnya,” pungkasnya. [ipl/suf]






