“Jodoh itu harus dijemput, bukan ditunggu di pengkolan. Passion juga begitu, cinta yang diungkapkan lewat aksi nyata. Kalau cuma bilang suka tapi nggak dibuktikan, itu bukan passion.”
Kalimat itu dilontarkan Najwa Shihab di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Selasa (26/8/2025). Analogi sederhana tapi kuat, menggambarkan bagaimana passion seharusnya bukan hanya diucapkan, melainkan diwujudkan.
Bagi Najwa, passion adalah energi yang bisa berubah bentuk, tapi tidak kehilangan inti. “Saya dulu di lapangan, sekarang lewat Narasi. Tujuan saya tetap sama: menjaga publik mendapat informasi yang benar,” ujarnya.
Dalam sesi talkshow bertajuk Passion in Action: Powering Your Purpose, Najwa menekankan dua keterampilan utama agar tetap relevan di era serba cepat: adaptasi dan konsistensi. Adaptif menjaga relevansi, sementara konsistensi merawat integritas.
“Passion penting, tapi kontribusi, tanggung jawab, dan rasa bermakna itulah yang membuat kita berkembang,” katanya. Kepada mahasiswa, Najwa berpesan agar berani mencoba sejak bangku kuliah.
Najwa juga memberi pesan khusus bagi mahasiswa UNAIR: jangan takut gagal. “Mahasiswa punya kemewahan waktu dan ruang untuk salah. Habiskan stok malumu di masa muda. Jangan menunda, jangan kebanyakan alasan. Mulailah sekarang,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan dilema klasik yang kerap dihadapi generasi muda: antara passion dan stabilitas hidup. Di mana tidak semua orang bisa hidup hanya dari passion. Kadang seseorang perlu pekerjaan yang menjamin, tapi passion tetap bisa dirawat. Bentuknya mungkin berubah, tapi ia mengingatkan bahwa nilai dan niatnya jangan sampai hilang.
Raditya Dika: Passion Bukan Profesi, tapi Keterampilan
Dalam sesi Talkshow yang sama, Raditya Dika turut berbagi kisah tentang bagaimana passion membentuk kariernya. Baginya, passion adalah sesuatu yang membuat orang rela mengulang aktivitas hingga lupa waktu. Namun, ia menekankan bahwa passion harus bernilai.
“Karya tanpa nilai tidak akan bertahan lama. Saya menyebut diri pencerita, bukan sekadar komedian atau penulis. Profesi bisa berubah, tapi keterampilan bercerita akan selalu relevan,” ungkap Raditya.
Nicholas Saputra: Risiko dan Keberanian
Nicholas Saputra menambahkan perspektif berbeda. Ia memulai perjalanan di dunia film sejak SMA, pada masa ketika industri perfilman belum tentu menjanjikan masa depan. “Tidak ada jaminan, tapi saya terus jalan. Keberanian mengambil risiko itulah yang membedakan kita,” katanya.
Menurut Nicholas, passion tidak selalu hadir di pekerjaan utama. Ia bisa dipupuk lewat proyek kecil, selama memberi ruang untuk berkembang. “Dunia terus berubah, jadi fleksibilitas itu penting. Selama jantung masih berdetak, saya akan mencoba hal baru,” tegasnya.
Aulion: Mulai dari Hal Kecil, Jangan Takut Eksperimen
“Lebih baik bikin 50 konten sederhana daripada dua konten sempurna. Dari banyak mencoba, kita belajar dan menemukan konsistensi,” ujar kreator konten yang dikenal dengan visual penuh warna.
Ia mengajak mahasiswa untuk berani bereksperimen. Bagi Aulion, passion bisa lahir dari hal-hal sederhana: warna favorit, topik obrolan yang membuat betah, atau gaya khas diri. “Konten itu seperti bayi, harus dirawat, dikembangkan, dan dikuatkan lewat kolaborasi. Jangan sekadar mengejar viral, tapi buatlah karya yang jujur. Itu yang memberi dampak lebih besar,” tambahnya. [fyi/aje]






