Surabaya (beritajatim.com) – Isu GERD dikaitkan dengan serangan jantung kembali beredar. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) dr. Jordan Bakhriansyah menegaskan GERD bukan pemicu langsung serangan jantung.
“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung,” kata dr. Jordan, yang juga Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia di Surabaya, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, GERD dan penyakit jantung merupakan gangguan pada organ berbeda. Keduanya bisa berhubungan secara tidak langsung karena berada dalam satu sistem tubuh yang sama.
Menurut dr. Jordan, GERD berpotensi memengaruhi jantung bila berlangsung lama dan disertai faktor risiko lain. Proses tersebut tidak terjadi singkat dan melalui mekanisme yang panjang. “Tidak ada penderita GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam waktu singkat,” ujarnya.
Ia menolak praktik diagnosis tanpa pemeriksaan medis baku, termasuk menyimpulkan nyeri dada sebagai dampak GERD atau gangguan jantung tanpa evaluasi klinis.
Kesamaan gejala, terutama nyeri dada, menurutnya tidak cukup menjadi dasar diagnosis. Pemeriksaan harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan tes penunjang.
Dokter Jordan juga menyoroti faktor risiko penyakit jantung yang terbagi dua, yakni tidak dapat dikendalikan dan dapat dikendalikan.
Faktor yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, dan genetik. Sementara faktor yang dapat dikendalikan mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, obat, dan gaya hidup. “Ketika mengenali faktor risiko, seseorang sudah masuk tahap pencegahan,” kata dr. Jordan.
Ia mengimbau masyarakat mengendalikan risiko melalui pola hidup sehat, termasuk olahraga rutin, tidak merokok, mengelola stres, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan diagnosis mandiri dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis bila muncul gejala, untuk mencegah kesalahan penanganan dan perburukan kondisi. [ipl/suf]






