Malang (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Faperta UB) Dr. Rita Parmawati,SP, ME, IPU,ASEAN Eng., mencegah pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mengembangkan pita mulsa organik dari limbah pisang, enceng gondok, dan daun paitan (crotalaria sp).
Rita Parmawati, sapannya, menjelaskan bahwa teknologi buatannya diterapkan saat mendekati musim tanam kedua di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT), sebab di wilayah itu limbah pisang begitu melimpah. Pita mulsa organik adalah teknologi yang menggantikan mulsa dari plastik yang dianggap tidak ramah lingkungan karena tidak terurai dengan baik.
“Kelemahan dari penggunaan mulsa plastik terhadap pertumbuhan tanaman adalah dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil tanaman, meningkatkan serangan hama, meningkatkan kontaminasi mikroplastik, genangan air hilangnya struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikroorganisme tanah,” jelas Rita, Jumat (12/7/2024).
Oleh karena itu, ungkap Rita Parmawati, enceng gondok dan daun paitan dihancurkan, dicacah dan di cetak menjadi sebuah lembaran se lebar 25 cm. Fungsinya ntuk menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi sampai dengan 40%.

“Dan jika terkena matahari pita mulsa organik akan terurai menjadi pupuk. Saat ini, kita masuk pada proses penerapan pita mulsa dilakukan pada skala laboratorium dan sudah pada tahap sosialisasi pada bupati Kabupaten Malaka, dan beberapa gapoktan serta kepala dinas di lingkungan Kabupaten Malaka,” jelasnya.
Kabupaten Malaka dipilih sebagai lokasi penerapan teknologi Pita Mulsa Organik karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan pertanian di daerah tersebut masih rendah. Padahal, masyarakat Kabupaten Malaka menggantungkan sistem perekonomiannya dari bidang pertanian.
Kabupaten Malaka, termasuk wilayah perbatasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rendah. Di sana terdapat masalah produktifitas padi itu mulai tahun 2020 hingga 2022 mengalami penurunan dan kesulitan untuk pasokan benih padi dan ada permasalahan pertanian lain seperti gulma, evaporasi, suhu tanah, dan sistem irigasi.
“Hal itu yang saat ini berusaha kita pecahkan dan harapannya produktivitas padi di tahun 2024 itu mengalami kenaikan. Kami Ke Malaka akhir Juli ini. Untuk proses pembuatan Pita Mulsa bagi lahan 10 hektar kami bekerjasama dengan pabrik mesin PT. Widjaya Teknik Indonesia (Witech),” jelas Rita.
Untuk keberlanjutan penerapan teknologi, masyarakat diajarkan pembuatan pita mulsa organic mulai dari pengenalan bahan, mencacah, pembuatan bubur pita, pengeringan dan pengepresan. Pihaknya berharap masyarakat mampu memproduksi secara mandiri pita mulsa organik. (dan/but)






