Lamongan (beritajatim.com) – Fenomena El Nino berpotensi memberikan dampak kepada sektor pertanian bahkan kekeringan, tak terkecuali di Kabupaten Lamongan. Sehingga tantangan dan ancaman yang tak mudah itu harus segera diatasi dan dimitigasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lamongan, Moch. Wahyudi menyampaikan bahwa mitigasi terhadap ancaman fenomena El Nino ini memang harus dilakukan dengan sejumlah langkah konkrit.
Wahyudi mengklaim, beberapa langkah konkrit yang sudah dilakukan Pemkab Lamongan dalam menghadapi ancaman serius El Nino itu di antaranya percepatan tanam, penggunaan varietas tahan kering atau adaptif kondisi kurang air, dan sekolah iklim.
Selain itu, sambung Wahyudi, berbagai dukungan juga terus digencarkan, mulai dari bantuan benih, pupuk, pengendalian hama dan penyakit tumbuhan, hingga dukungan alat mesin pertanian serta penyediaan infrastruktur.
“Termasuk Lamongan juga telah melakukan inovasi untuk menjaga dan meningkatkan produksi tanaman padi, yakni inovasi Manajemen Tanaman Sehat (MTS) dengan memanfaatkan bahan organik, budidaya padi hibrida di lahan tadah hujan/kering, dan peningkatan indeks pertanaman melalui optimisasi lahan,” papar Wahyudi, Rabu (28/6/2023).
Wahyudi berharap, langkah-langkah mitigasi itu bisa dilakukan secara kolaboratif, sehingga kerugian yang disebabkan oleh fenomena ini pun bisa diminimalisir.
“Melalui kolaborasi inklusif mari kita wujudkan ketahanan pangan dan pertanian Lamongan yang mandiri, tangguh, progresif (Kepal Mantap),” kata Wahyudi.
Baca Juga:
Situs Jetis Bakal Jadi Pusat Studi Kebudayaan Lamongan
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi memuji hasil panen dari tanam padi yang menggunakan inovasi MTS tersebut, salah satunya seperti yang dilakukan oleh petani di Desa Prijekngablak, Kecamatan Karanggeneng.
Sehingga, menurut Yuhronur, apa yang dilakukan petani Prijengablak ini dapat dijadikan inspirasi bagi petani lain, yakni memanfaatkan dana desa untuk kelangsungan ketahanan pangan dengan melaksanakan SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu).
“Penerapan MTS ini dapat jadi inspirasi bagi petani lain, terlebih menggunakan dana desa untuk ketahanan pangan. Ini sudah benar, dapat mengurangi biaya produksi, juga petani secara mandiri bisa membuat pupuk di SL-PHT dengan keterbatasan pupuk subsidi pemerintah,” tuturnya, usai melakukan panen padi penerapan MTS, di Lahan desa setempat.
Yuhronur menambahkan, kemandirian petani Prijekngablak ini mampu memunculkan kearifan lokal yang kadang tidak bisa dilakukan di tempat lain. “Struggle atau daya juang para petani Prijekngablak ini bisa menjadi inspirasi bagi petani lain,” tandasnya.
Baca Juga:
Pelestarian Situs Jetis Lamongan, BPK XI Beri 4 Rekomendasi
Tak cukup itu, Yuhronur juga memuji cara petani Prijekngablak dalam menggunakan agen hayati sebagai upaya mengusir hama penyerang padi, seperti halnya penggunaan Rubuha (rumah burung hantu), hingga keong emas dan kotoran sapi.
“Ini bisa menjadi pengalaman baru, biasanya tikusnya tidak menyisakan hasil padi untuk petani, karena menggunakan gondang (keong emas) dengan kotoran sapi dan sebagainya. Sekarang tikusnya tidak selera makan padi. Artinya hama-hama ini dapat diatasi dengan agen hayati melalui biosaka dan sejenisnya,” jelasnya.
Sebagai informasi, penerapan inovasi MTS di SL-PHT Desa Prijekngablak ini telah mengubah mindset petani dari yang sebelumnya menggunakan pupuk urea, phonska, dan SP-36 kini beralih menggunakan pupuk organik.
Berkat inovasi MTS itu, tanaman padi di Desa Prijekngablak ini juga dirasa lebih sehat, tidak terserang penyakit dan anakannya pun semakin banyak, dengan rata-rata 23 sampai 25. [riq/beq]






