Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mengusulkan pembentukan tim pengendali harga gabah saat puncak panen raya. Usulan ini muncul untuk menjaga stabilitas harga gabah di tengah musim panen raya.
Sebab, dalam musim panen pertama yang berlangsung mulai Januari hingga April 2025 pemerintah belum bisa mengendalikan harga gabah. Sehingga, para petani masih menjual gabah panen di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp6.500.
Menurut Bidang Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman (Sarpras dan Perlintan) DKPP Bojonegoro, Yuni Arba’atun, panen pada April ini diperkirakan berasal dari luasan tanam Januari seluas 15.195 hektare dengan hasil produksi sekitar 88.136 ton gabah.
Adapun untuk puncak panen raya pertama tahun ini, tercatat total produksi mencapai 350.580,81 ton dengan luas tanam sekitar 79.581,91 hektare per Januari, dan laporan bertambah menjadi 103.862,91 hektare hingga Maret 2025.
“Untuk menjaga harga gabah saat panen raya, diperlukan tim pengawasan harga yang terintegrasi, tidak hanya pengawasan pupuk seperti Tim KP3 (Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida) yang sudah ada,” ujarnya, Senin (28/4/2025).
Selain usulan pembentukan tim pengendali harga, DKPP juga mendorong percepatan operasionalisasi BUMD Pangan Mandiri. BUMD ini diharapkan dapat menyerap hasil panen petani secara optimal sehingga harga gabah di tingkat petani tetap stabil dan tidak anjlok saat musim panen raya.
“BUMD Pangan Mandiri nantinya berperan penting dalam menyerap hasil pertanian petani. Dengan begitu, stabilisasi harga bisa lebih terjaga,” tambah Yuni.
Sebagai informasi, produksi tahunan gabah di Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2024 lalu mencapai 883.114 ton. Dengan capaian produksi yang besar tersebut, pengendalian harga menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesejahteraan petani.
Sementara, Yuni menyebutkan bahwa pelaporan terkait musim tanam kedua saat ini mengalami beberapa kendala akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Para petani saat ini sudah ada yang mulai melakukan penanaman, tetapi juga masih ada yang baru panen. [lus/kun]






