Jember (beritajatim.com) – Dituding sebagai kelompok berideologi Wahabi atau radikal, Partai Keadilan Sejahtera di Kabupaten Jember, Jawa Timur, justru berhasil meraih sukses dalam empat kali pemilihan umum sejak 2009.
Setelah memperoleh lima kursi pada Pemilu 2009, berturut-turut Partai Keadilan Sejahtera memperoleh enam kursi DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Pemilu 2014, 2019, dan 2024. Dengan demikian mereka selalu berhasil membentuk satu fraksi tersendiri selama empat periode DPRD Jember.
Capaian ini lebih baik daripada sejumlah partai, termasuk Partai Persatuan Pembangunan, sebuah partai politik tradisional yang berbasis pemilih dari kalangan NU. PPP hanya meraih tiga kursi pada Pemilu 2009 dan dua kursi pada 2014. PPP baru meraih lima kursi pada Pemilu 2019 dan 2024 di bawah kepemimpinan Madini Farouq.
Tak hanya dari jumlah kursi. Dari jumlah suara pemilih, PKS juga mengungguli PPP, yakni 111.240 suara berbanding 95.119 suara dalam Pemilihan Umum 2024.
Apa rahasia PKS sehingga bisa stabil selama 15 tahun di DPRD Jember? “Kami disatukan dalam satu visi perjuangan. Itu yang menjadikan kami siap untuk dijadikan apa saja, ditempatkan di mana saja, bagaimana bentuknya, mendapatkan apa saja. Alhamdulillah visi perjuangan itu masih kami rasakan kuat,” kata Ketua Dewan Pengurus Daerah PKS Jember Sudiyanto, Minggu (10/3/2024).
Menurut Sudiyanto, kader dan seluruh pengurus PKS saling menopang untuk mewujudkan visi perjuangan. “Kami juga senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dulu PKS dinamakan kelompok Wahabi dan radikal. Kami membuka diri, siapapun yang ingin berjuang bersama-sama, kami fasilitasi,” katanya.
PKS membuat orang-orang baru yang masuk senyaman mungkin dengan tidak memnperlakukan mereka berbeda dengan kader lama. “Mereka diberi fasilitas yang sama dalam berjuang. Alhamdulillah. Kami bukan partai berbasis golongan, tapi partai religius, nasionalis, dan lebih mengedepankan nilai-nilai kebhinnekaan dan nilai-nilai keislaman yang moderat. Kami saling melengkapi untuk memperbaiki kondisi negara ini,” kata Sudiyanto. [wir]






