Jakarta (beritajatim.com) – PT Pertamina (Persero) memastikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah terdampak bencana alam di Pulau Sumatra telah berangsur normal dan kini mendekati 100 persen.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan, perusahaan terus mengakselerasi pemulihan distribusi energi sekaligus pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di daerah terdampak.
“Alhamdulillah berkat dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, layanan energi untuk masyarakat telah berangsur pulih. Sebanyak 406 SPBU di Sumatra Utara dan 147 SPBU di Sumatra Barat telah 100 persen beroperasi,” kata Arya.
Untuk menjangkau wilayah terisolir akibat banjir dan longsor, Pertamina menerapkan skema Regular, Alternative, dan Emergency (RAE). Skema ini memanfaatkan berbagai moda transportasi, mulai dari jalur darat, laut, hingga udara.
“Distribusi dilakukan menggunakan pesawat Hercules, helikopter, hingga air tractor untuk memastikan BBM dan LPG tetap menjangkau masyarakat di daerah yang akses jalannya terputus,” ujarnya.
Sementara itu, untuk wilayah Aceh, Arya menyebutkan sebanyak 151 dari 156 SPBU atau sekitar 97 persen telah kembali beroperasi. Masih terdapat lima SPBU yang belum dapat melayani karena kendala akses.
“Untuk SPBU yang belum aktif, kami melakukan suplai dari wilayah terdekat dan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk percepatan pemulihan akses,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada distribusi energi, Pertamina juga mengerahkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar berupa penyediaan air bersih. Pendistribusian air dilakukan ke fasilitas umum dan permukiman warga di Aceh Tamiang, disertai program pembuatan serta reaktivasi sumur bor warga.
Hingga 8 Januari 2026, Pertamina telah mereaktivasi 19 sumur bor di wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Timur, serta membangun empat sumur bor baru di lokasi strategis lainnya.
“Kami juga memberangkatkan tujuh tim bor lengkap ke Aceh Tamiang dan Pidie Jaya. Selain itu, 15 truk air bersih dikirimkan setiap hari dengan total volume mencapai 2,2 juta liter,” tutur Arya.
Sejak masa tanggap darurat, Pertamina juga menyalurkan bantuan energi berupa 1.578 tabung LPG serta 653 kiloliter BBM jenis Dexlite, Pertamax, dan Avtur untuk kebutuhan genset, alat berat, ambulans, hingga pesawat logistik. Selain itu, disalurkan pula 12 unit genset dan 15 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala kecil.
Pada sektor kesehatan dan logistik masyarakat, Pertamina telah melayani lebih dari 1.500 warga melalui empat posko kesehatan yang tersebar di Aceh Tamiang, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Sibolga.
“Kami mengerahkan 28 dokter dan 56 perawat dari anak perusahaan Pertamina,” ungkap Arya.
Melalui enam Posko Pertamina Peduli yang didukung 508 relawan, perusahaan juga menyuplai kebutuhan pokok dan bahan makanan ke 111 dapur umum serta 164 posko pengungsian di tiga provinsi.
Arya menegaskan, Pertamina akan terus bersinergi dengan BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana.
“Setiap tetes air bersih dan setiap liter bahan bakar yang tersalurkan adalah simbol harapan untuk bangkit kembali. Kami akan terus bersama masyarakat di lokasi bencana, melayani dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengapresiasi peran aktif Pertamina dalam masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan.
“Tantangan terbesar penanganan bencana kali ini adalah terputusnya urat nadi logistik akibat longsor dan banjir. Kami mengapresiasi langkah cepat Pertamina yang tidak hanya menunggu jalan terbuka, tetapi aktif menjemput bola melalui jalur laut dan udara,” kata Muhari.
Menurutnya, kontribusi Pertamina dalam penyediaan air bersih menjadi faktor vital dalam mencegah penyakit pascabencana.
“Pembuatan sumur bor dan pengiriman truk air bersih secara rutin sangat membantu pemerintah daerah dan BNPB dalam menjaga standar kesehatan masyarakat di pengungsian. Sinergi seperti inilah yang dibutuhkan dalam manajemen bencana yang efektif,” ujarnya. [hen/beq]






