Lamongan (beritajatim.com) – Koleksi keramik kuno di Museum Sunan Drajat Lamongan Dikaji. Hasil kajian itu kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan melalui kegiatan seminar.
Secara rinci, materi dalam seminar ini mengupas tentang keramik kuno yang saat ini masih tersimpan rapi di Museum Sunan Drajat, mulai dari jenis keramik, nilai sejarahnya, hingga kaitannya dengan peradaban Lamongan pada masa lampau.
Ada 2 (dua) narasumber yang dihadirkan Disparbud Lamongan dalam seminar ini, yakni Andi Putranto, seorang akademisi dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM), dan Camella Sukma Dara, yang juga seorang arkeolog.
Sedangkan para peserta yang mengikuti seminar ini berasal dari berbagai kalangan, seperti guru sejarah dari sejumlah sekolah di Lamongan, para pegiat budaya, pemerhati sejarah dan lainnya.
Pada kesempatan ini, Andi Putranto menyampaikan bahwa dari sekian keramik koleksi Museum Sunan Drajat yang diteliti dan diidentifikasi, di antaranya terdapat keramik tertua yang berasal dari Dinasti Sung.
“Dinasti Sung itu antara abad 9 sampai 10-an. Keramik tersebut hibah dari seorang kolektor asal Surabaya,” ungkap Andi, saat ditemui di Aula Kantor Disparbud Lamongan, ditulis Selasa (6/6/2023).
Baca Juga: Resmikan Restoran Sunan Drajat Lamongan, Menkop UMKM RI: Role Model Pengembangan Ekonomi Pesantren
Fakta lain yang diungkapkan oleh Andi, sebaran keramik-keramik kuno yang ditemukan di Indonesia itu merupakan barang impor. Bukan buatan masyarakat Indonesia. Pasalnya, sampai sejauh ini belum pernah ditemukan bangunan kuno yang berbentuk tungku atau tempat pembuatan keramik.
Selain itu, Andi menambahkan, koleksi keramik kuno yang ada di Museum Sunan Drajat itu juga menjadi salah satu bukti bahwa Lamongan di masa lalu merupakan salah satu wilayah di pesisir utara Jawa, yang menjadi bagian dari gerbang penghubung antara masyarakat pribumi dengan negara luar.
“Pesisir Laut Jawa, termasuk wilayah Lamongan, itu menjadi salah satu tempat awal kontak langsung dengan negara luar. Nah, salah satu buktinya adalah sebaran keramik itu. Sebenarnya bahasan ini sangat kecil, karena baru melihat dari sisi sebaran keramik saja. Kalau mau dilihat secara luas, sebenarnya masih banyak hal yang bisa diungkap,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Disparbud Lamongan, Siti Rubikah mengatakan bahwa seminar koleksi Museum Sunan Drajat ini merupakan bagian dari kegiatan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan koleksi secara terpadu (DAK Non Fisik Museum) Tahun 2023.
“Pembahasan dalam seminar ini difokuskan pada koleksi keramik di Museum Sunan Drajat, karena hasil kajiannya belum dikupas lebih mendalam,” ujar Rubikah.
[berita-terkait number=”2″ tag=”lamongan”]
Lebih lanjut Rubikah menerangkan, masyarakat bisa mengunjungi Museum Sunan Drajat secara virtual, melalui website museumsunandrajat.id. Selain menyajikan koleksi benda-benda kuno, website Museum Sunan Drajat ini juga dilengkapi audio yang menjelaskan koleksi museum itu sendiri.
Kendati demikian, terang Rubikah, informasi yang disediakan oleh website itu tidak sedetail saat berkunjung langsung ke Museum Sunan Drajat. Oleh sebab itu, pihaknya pun mengajak kepada masyarakat agar bisa langsung mengunjungi museum untuk mengobati rasa penasaran tersebut.
“Meskipun berkunjung secara virtual, tapi pengunjung bisa melihat semua sisi, secara 360 drajat. Di setiap koleksi juga disematkan informasi mengenai koleksi tersebut. Tujuan dari museum virtual ini untuk menarik minat pengunjung agar bisa datang langsung. Hal ini menjadi langkah Disparbud Lamongan untuk meningkatkan minat kunjungan,” tandasnya.[riq/ted]






