Jember (beritajatim.com) – Dunia bisnis saat ini sedang menghadapi dua hal besar. Lulusan fakultas hukum perguruan tinggi di Indonesia harus bersiap pula untuk menghadapi hal-hal besar tersebut, terutama dari perspektif legal.
Hal besar pertama adalah ketidakpastian akibat konflik seperti perang dan pandemi Covid-19. “Saat ini gara-gara konflik Rusia-Ukraina, dunia menuju krisis energi yang sudah menghantam benua Eropa,” kata Direktur Utama PT. Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) Didik Prasetiyono, dalam acara Professional Talk Series Fakultas Hukum Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagaimana dilansir Humas Unej, Selasa (6/12/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”PT-SIER”]
Menurut Didik, krisis energi bisa meluas ke belahan dunia lain termasuk Asia. Ini terbukti adanya beberapa perusahaan start up besar yang melakukan pemutusan hubungan kerja karyawan. “Maka mahasiswa saat ini harus membekali diri dengan banyak kemampuan soft skill selain hard skill, sebab dipastikan kompetisi memperebutkan kerja sangat ketat,” katanya.
Hal besar kedua adalah perubahan paradigma bisnis ke bisnis hijau. “Kesadaran terhadap kelestarian lingkungan mengemuka,” kata Didik, mencontohkan PT. SIER yang sudah menerapkan pengolahan limbah cair terbesar di Jawa Timur dan mulai menerapkan pemakaian solar sel sebagai sumber energi terbarukan.
“Pesan saya kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember, harus mulai belajar mengenai sisi hukum yang menyertai bisnis hijau seperti apa itu carbon trading, hukum lingkungan dan lainnya,” kata Didik.
Sebagai informasi kegiatan Professional Talk Series adalah kegiatan rutin yang digelar oleh FH Universitas Jember dengan menampilkan pembicara para tokoh yang kompeten di bidang masing-masing. Mahasiswa yang berminat harus mendaftarkan diri dulu mengingat peserta hanya dibatasi 150 orang setiap kegiatan. [wir/kun]






