Surabaya (beritajatim.com) – Dirjen Pendidikan Vokasi Kiki Yuliati menyebut perguruan tinggi bakal menghadapi tantangan yang begitu kompleks ke depannya. Sehingga, kampus tak bisa beroperasi seperti di era tahun 80-an.
“Ada 4 pilihan bagi perguruan tinggi. Transformasi, optimasi, tidak melakukan apa pun namun bereaksi nanti, dan tidak melakukan apa pun namun bagaimana nanti,” kata Kiki saat Dies Natalis ke-36 PENS, ditulis Rabu (26/6/2024).
Bagi perguruan tinggi yang mengambil opsi tidak melakukan apapun, lanjut Kiki, tentu harus bersiap dengan risiko terburuk. “Jika memilih bertransformasi dan optimasi, menurut penelitian akan lebih survive. Sebagaimana yang dilakukan PENS,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, pendidikan vokasi menjadi salah satu yang digemari calon siswa dan mahasiswa. Data Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) mencatat, jumlah pendaftar di vokasi meningkat dari tahun ke tahun.
“Dan bahkan di beberapa prodi vokasi tertentu nilai UTBK pendaftarnya cukup tinggi. Artinya, pendidikan vokasi makin dilirik oleh masyarakat kita,” ungkap Kiki.
Di kesempatan sama, PENS juga meluncurkan program S3 Terapan dan Gedung Smart Automation Workshop (SAW) di usianya yang ke-36 di tahun 2024 ini. Kiki menilai, gedung dan teknologinya ini akan menunjang persiapan tenaga terampil yang dibutuhkan.
“Kemendikbudristek mendukung penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, salah satunya melalui pembangunan Gedung SAW di PENS yang nilai kubermanfaatnya sangat luar biasa ini,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur PENS Aliridho Barakbah menambahkan bahwa PENS merupakan politeknik yang mengusulkan program doktoral terapan pertama di Indonesia, dan saat ini tengah menunggu SK pengesahan.
“Secara fasilitas gedung dan teknologinya sudah mendukung ke sana, maka kami pun menyelenggarakan soft launching Program Doktoral Terapan Prodi Sistem Siber Fisik. Dan, segera setelah turun SK-nya, kami akan membuka angkatan pertama dengan kapasitas di kisaran 10 sampai 30 mahasiswa,” jelasnya. [ipl/ian]






