Ringkasan Berita:
- Direktur RSUD dr. Koesnadi Bondowoso menegaskan proses rekrutmen nakes non-ASN dilakukan transparan berbasis sistem komputer.
- Rumah sakit membantah adanya peserta titipan dalam proses seleksi.
- Pihak RSUD siap diaudit Inspektorat jika ditemukan keraguan publik.
- Polemik rekrutmen mencuat setelah kritik viral dan sorotan DPRD Bondowoso.
Bondowoso (beritajatim.com) – Direktur RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna, memberikan klarifikasi resmi terkait polemik proses rekrutmen tenaga kesehatan (nakes) non-ASN yang belakangan menjadi sorotan publik.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan secara transparan, profesional, serta siap diaudit oleh Inspektorat apabila diperlukan.
Klarifikasi ini muncul menyusul adanya dugaan ketidaktransparanan dalam proses seleksi tenaga kesehatan non-ASN yang sempat memicu kritik di media sosial dan perhatian DPRD Bondowoso.
Menanggapi isu tersebut, dr. Yus Priyatna memastikan bahwa mekanisme seleksi menggunakan sistem komputerisasi penuh yang dinilai akurat dan minim intervensi.
“Tidak ada caranya mengubah nilai memakai komputer. Begitu enter, hasilnya keluar dan sudah selesai. Setiap peserta sebenarnya bisa langsung melihat nilai masing-masing di layar komputer mereka,” jelas dr. Yus, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, sistem tersebut dirancang untuk menjamin objektivitas hasil ujian sekaligus menutup peluang manipulasi skor oleh pihak manapun.
Terkait tidak diumumkannya seluruh nilai peserta secara terbuka, pihak RSUD menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga privasi individu peserta.
“Nilai itu menyangkut privasi masing-masing peserta. Peserta lain tidak boleh melihat nilai rekannya. Namun yang pasti, garis besarnya tetap transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Dr. Yus juga membantah keras tudingan adanya “peserta titipan” dalam proses seleksi tersebut.
Ia menegaskan seluruh peserta wajib mengikuti seluruh tahapan ujian sesuai prosedur yang berlaku, tanpa pengecualian.
“Enggak ada titipan. Semua harus ujian karena kami memang sedang kekurangan pegawai, terutama perawat, untuk menjaga kualitas pelayanan,” tegasnya.
Menurut pihak rumah sakit, kebutuhan tenaga kesehatan baru menjadi langkah strategis untuk menjaga kualitas layanan kesehatan di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan masyarakat.
Menanggapi dorongan DPRD Bondowoso agar Inspektorat turun tangan melakukan audit, RSUD dr. Koesnadi menyatakan terbuka sepenuhnya.
“Kalau memang ada ketidakpercayaan, silakan diaudit oleh Inspektorat. Kami tidak ada masalah karena prosesnya memang transparan. Inspektorat memang tidak dilibatkan sejak awal karena ini bersifat rekrutmen internal untuk pegawai kontrak BLUD,” pungkasnya.
Sebelumnya, polemik rekrutmen ini mencuat setelah video kritik dari dr. Yusdeny Lanasakti viral di media sosial dan memicu perhatian Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, yang meminta evaluasi menyeluruh guna memastikan prinsip merit system tetap terjaga. [awi/beq]






