Jember (beritajatim.com) – Rio Prayogo, Direktur Politika Research and Consulting (PRC), mencalonkan diri menjadi bupati Situbondo, Jawa Timur, tahun ini. Dia mengandalkan dukungan suara anak-anak muda.
Rio sudah merintis upaya menjadi bupati sejak setahun silam. “Sejauh ini popularitas saya sudah di atas 70 persen. Saya kira ini bagus. Soal elektabilitas, pembentukannya nanti setelah pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum. Yang penting saya bermodalkan popularitas dulu,” katanya, Sabtu (16/3/2024).
Rio termotivasi menjadi bupati setelah melihat kondisi Situbondo, tanah kelahirannya. “Aku sering pulang ke Situbondo. Sebagai putra daerah yang berkarier di Jakarta dan Jember, saya sering mendapat keluh kesah. Akhirnya saya berkumpul dengan teman-teman beragam komunitas,” katanya.
Dari pertemuan itu disepakati perlunya akselerasi pembangunan untuk generasi muda. Menurut Rio, komunitas anak-anak muda ini tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. “Akhirnya ya sudah, mari kita coba rebut kekuasaan melalui pilkada,” katanya.
Sebagai alumnus Himpunan Mahasiswa Islam dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP ) Universitas Jember, Rio memahami benar bagaimana peta politik di Situbondo. Tak cukup hanya mendapat dukungan partai, ia harus mendapat dukungan kultural dari ulama.
Rio kemudian menyurati semua simpul-simpul kultur dan mendatangi para kiai di Situbondo dengan membawa produk usaha mikro kecil menengah anak-anak muda dan kaum difabel. “Itu kami lakukan untuk memberi kebaruan dalam berpolitik. Sambutan dari para tokoh itu baik dan mendorong. Mudah-mudahan mendapat dukungan partai,” katanya.
Rio pun memutuskan untuk mendeklarasikan pencalonannya. “Soal partai dan lain-lain masih proses komunikasi,” katanya.
Dengan waktu yang tersisa delapan bulan jelang pemilihan kepala daerah, Rio harus pandai bersiasat. Lawannya jelas tak mudah: Bupati Karna Suswandi. “Harus dengan kultur. Lewat jalur independen rasanya tidak mungkin. Perbedaan antara Situbondo dengan Banyuwangi dan Jember ada pada dukungan kultur. Pengaruh kultur sangat kuat di Situbondo,” katanya.
Elektabilitas rendah pada awal pencalonan bukan masalah, selama kelompok klultural dan kiai berpengaruh mendukung bersama partai seperti Partai Kebangkitan Bangsa atau Partai Persatuan Pembangunan. “Itu akan sangat membantu proses pembentukan elektabilitas,” kata Rio.
Sejumlah kiai terpandang di Situbondo menyarankan Rio untuk terus turun ke masyarakat dan melakukan aksi sosial terutama di kalangan anak muda. Dari sini , dia yakin tawaran kebaruan pandangan dalam kepemimpinan di Situbondo bisa diterima para kiai.
“Interaksi kami organik. Kami berdiskusi antargenerasi, mendiskusikan potensi generasi alfa sampai milenial, bagaimana menjembatani generasi X ke generasi Z yang nir value. Bagaimana mencari pola treatment kepada mereka. Jadi kalau ditanya bagaimana relevansi kultur, kami mendapat dukungan luar biasa. Paling tidak pada tataran ide dan gagasan,” kata Rio.
Rio berjuang keras mengambil ceruk pemilih muda. “Sejak awal kami melihat potensi pemilih muda. Secara demografis, mereka paling besar. Mereka juga lebih identik dengan saya. Kemudian kita bicara masa depan, tentang generasi muda Situbondo, bukan bicara Rio Prayogo. Rio Prayogo hanya martir. Gerakan ini dibangun dari gerakan komunitas literasi, sehingga jadinya begini,” katanya.
Rio membangun narasi pilkada yang lebih bersahabat bagi anak muda. “Tagline kami menggambarkan politik yang tidak harus bermusuhan, khas anak muda. Kami menawarkan pengembangan sektor informal, karena sumber daya alam Situbondo tidak seperti Bojonegoro yang kaya,” katanya.
“Upaya yang kami lakukan adalah mengembangkan shifting mindset. Yang menjadi shifting adalah generasi muda, bukan generasi tua untuk menghadapi masa depan Situbondo, yang berdasarkan hasil survei menunjukkan, bahwa lapangan pekerjaan masih menjadi momok menakutkan bagi kelas menengah baru,” kata Rio.
Rio ingin anak-anak muda Situbondo berhenti berpikir menjadi aparatur sipil negara. “Belajarlah untuk menggunakan entrepreneur mindset, karena potensi pasarnya ada, yakni jutaan orang yang menuju dan pulang dari Bali lewat Situbondo. Orang mau ke Bali kan pasti bawa uang. Pertanyaannya, kenapa mereka tidak membelanjakan uang di Situbondo? Ya karena Situbondo tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa,” katanya.
“Apalagi sebentar lagi ada jalan tol. Orang beraktivitas dengan mobil pribadi akan lebih padat daripada kendaraan lainnya, Itu kan potensi market. Tinggal apa potensi unik yang mau ditawarkan di Situbondo. Hotel saja susah. Orang tidak mungkin melirik Situbondo, kalau Situbondo begini-begini saja,” kata Rio.
Rio mengajak anak-anak muda mengembangkan kewirausahaan. “Potensi alam laut kita luar biasa,” katanya.
Bagaimana menghadapi munculnya residu negatif pemilihan presiden dan pemilihan umum, mengingat pilkada berlangsung tahun ini juga? “Itu yang kami bicarakan bersama tim: residu pilpres, terutama dalam vote buying. Saya berkomitmen menjaga pemilu bersih, dalam pengertian tidak ada pemyalahgunaan kewenangan dan tidak berupaya melakukan money politics,” kata Rio.
Rio meyakini Situbondo tidak akan pernah maju jika dikelola dengan cara-cara pragmatis. “Kami sadar bahwa banyak yang menganggap Rio tidak punya uang. Memang saya tidak punya uang. Tapi bukankah peradaban politik dibangun dari anak-anak muda? Tidak punya uang, tapi kami punya semangat,” katanya. [wir]







2 Komentar
Rio Orangnya pandai serta tanggung jawab… Layak jd bupati situbondo 👍
Bedebah tengil, belum bisa apa apa udah pede nyabup segala. Anak kemarin sore dikasih massa ya gini