Pasuruan (beritajatim.com) – Ketegangan melanda Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, setelah puluhan warga membongkar sebuah bangunan makam yang berdiri di belakang Masjid Jami’ Baitul Atiq pada Senin (7/10/2025).
Aksi spontan tersebut memicu kerumunan warga yang berbondong-bondong datang ke lokasi. Sebagian bahkan turut membantu merobohkan bangunan dengan alat sederhana.
Warga menilai bangunan itu tidak menghormati keberadaan makam para kiai dan aulia yang telah lama dimuliakan di wilayah tersebut. Posisi bangunan yang menempel di makam utama dianggap mengganggu kehormatan para tokoh agama sekaligus menutup akses menuju area ziarah.
Tokoh masyarakat setempat, Saifulloh Huda atau yang akrab disapa Gus Huda, mengatakan bahwa pembongkaran sebenarnya bukan langkah utama yang diinginkan masyarakat. Menurutnya, warga sejak awal hanya berharap adanya mediasi antara keluarga pembangun makam dan masyarakat setempat.
“Sebenarnya kami tidak ingin membongkar bangunan makam itu. Kami ingin ada mediasi, meskipun secara hukum adat dan syar’i pembangunan makam tersebut memang salah,” ujar Gus Huda.
Namun, karena emosi warga yang sudah lama merasa resah, situasi di lapangan sulit dikendalikan. Dorongan spontan akhirnya membuat masyarakat bertindak langsung dengan membongkar bangunan tersebut.
“Yang membuat tidak terima itu adalah kehormatan para aulia dan para kiai yang tidak dihargai. Makam dihimpit bangunan itu, bahkan jalan menuju lokasi menjadi tertutup,” tambahnya.
Gus Huda menyebut pihaknya sebenarnya telah mengirim surat resmi untuk meminta audiensi dengan keluarga pembangun makam. Namun karena tidak mendapat tanggapan, masyarakat akhirnya memilih bertindak tanpa menunggu keputusan lanjutan.
Aparat keamanan dan tokoh agama sempat berusaha menenangkan warga agar pembongkaran dilakukan secara tertib. Meski begitu, desakan warga yang sudah tidak sabar membuat proses pembongkaran tetap berjalan hingga bangunan kuburan itu akhirnya roboh seluruhnya. [ada/beq]






