Blitar (beritajatim.com) – Ratusan warga menggelar demo di area tambang pasir Kali Putih Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Mereka meminta agar area tambang pasir itu ditutup. Para penambang pun diminta untuk angkat kaki dari lokasi penambangan.
Terkait hal itu CV Barokah Sembilan Empat selaku pengelola tambang pasir di Kali Putih itu pun siap untuk menerima aspirasi warga. CV Barokah Sembilan Empat pun mengaku telah menghentikan manajemen yang lama karena dianggap bermasalah.
“Sebenarnya dari direksi CV Barokah Sembilan Empat sendiri sangat aspiratif dengan tuntutan warga kami langsung menghentikan manajemen yang lama. Yang mana banyak sekali aduan-aduan yang akhirnya meledak pada hari ini. saya sendiri juga bingung karena saya masih 1 pekan disini,” kata Aditya Putra Mahardika, Direksi CV Barokah Sembilan Empat, Kamis (13/3/2025).
CV Barokah Sembilan Empat sendiri mengelola tambang di aliran sungai lahar ini secara legal atau resmi. Pihaknya mengaku telah memperoleh izin dari pihak-pihak terkait menjalankan penambangan pasir.
“Kita nanti akan ganti manajemen yang baru yang lebih humanis yang mana lebih peka terhadap masyarakat. Jadi kami izin sudah resmi dari bisa dilihat di MODI juga,” imbuhnya.
Terkait dengan tuntutan warga untuk menghentikan pertambangan, CV Barokah Sembilan Empat pun akan berpedoman pada undang-undang. Pihaknya pun kini terus berkooridinasi dengan tim hukum dan tim teknis terkait tuntutan warga untuk menghentikan pertambangan ini.
“Pada prinsipnya segala bentuk ancaman gangguan dan tantangan di tambang legal itu kan ada Undang-undangnya, di situ kami berpacu,” tegasnya.
Sebelumnya, Ratusan warga dari 4 kecamatan menggelar unjuk rasa atau demo di area tambang pasir Kali Putih, Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Massa meminta agar tambang pasir yang beroperasi aliran sungai lahar Gunung Kelud tersebut tutup.
Demo ini merupakan bentuk kekesalan warga atas aktivitas tambang pasir di Kali Putih tersebut. Menurut warga sejak tambang pasir itu beroperasi, sumber air dan irigasi yang mengalir ke sawah petani menjadi terganggu.
Akibatnya tanaman petani pun tidak bisa maksimal. Bahkan tidak jarang tanaman petani rusak akibat air sungai yang telah tercampur dengan berbagai material tambang.
“Kami minta agar tambang ini tutup sekarang juga, pokoknya alat berat harus pergi dari sini sekarang,” ungkap Arinal, petani.
Keberadaan tambang pasir di Kali Putih ini pun membuat warga resah. Pasalnya sejak adanya tambang pasir, sumber air warga dan irigasi ke pertanian menjadi terganggu.
Para petani pun sudah muak dan enggan untuk diajak berkomunikasi. Mereka hanya memiliki satu tuntutan yakni tambang pasir itu ditutup dan seluruh alat berat pergi dari aliran lahar Gunung Kelud.
“Karena adanya penggalian ini sangat merugikan petani khususnya pengairan baik jumlah debit air juga sedimen-sedimennya juga masalah zat-zat yang ditimbulkan dari penggalian ini juga sangat merugikan petani,” ungkap Muji.
Ratusan warga yang demo tambang pasir ini berasal dari 4 kecamatan yakni Gandusari, Garum, Talun hingga Kanigoro. Warga pun mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi jika tambang pasir di Kali Putih tetap beroperasi. [owi/beq]






