Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya kini memiliki Kampung Inggris mirip kawasan Pare, Kediri. Program ini diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag bersama Kelurahan Semolowaru.
Dekan FIB Untag Surabaya, Dr. Pariyanto, M.Ed., mengungkapkan bahwa program edukasi masyarakat ini terinspirasi dari keberhasilan pusat pembelajaran di Kediri.
“Kami berharap agar seperti Pare, Surabaya juga mampu memiliki kampung-campung berbahasa yang aktif, hidup, dan mandiri,” ujar Pariyanto, dikutip Selasa (19/5/2026).
Proses pembelajaran warga akan berlangsung secara bertahap. Tim pengajar dari kalangan dosen dan mahasiswa bergerak mendampingi masyarakat untuk memastikan materi terserap baik.
“Nantinya dosen dan mahasiswa akan mengajarkan bahasa Inggris kepada warga, lalu dilihat bagaimana respon serta perkembangannya,” kata Pariyanto.
Program pengabdian masyarakat ini mendapat dukungan penuh pihak rektorat. Wakil Rektor III Untag Surabaya, Dr. Sumiati, M.M., menilai kolaborasi ini menjadi perwujudan nyata dharma perguruan tinggi.
“Untag Surabaya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan serius, termasuk pengabdian kepada masyarakat seperti ini. Maka dari itu, kami harap kerja sama ini harus saling menguntungkan,” kata Sumiati.
Aktivitas ini menjadi ruang praktis bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan mengajar. Sementara bagi masyarakat, program ini membuka kesempatan luas meningkatkan kapasitas diri.
“Bagi mahasiswa, ini adalah laboratorium sosial untuk mengasah kepekaan dan keterampilan mengajar, sementara bagi warga, ini adalah peluang emas untuk meningkatkan kompetensi,” tegas Sumiati.
Pihak kelurahan menyambut baik program ini. Lurah Semolowaru, Kenny Pieter Tupamahu, S.STP., MM., berharap kehadiran Kampung Inggris mendongkrak kesejahteraan ekonomi warga setempat.
“Semangat belajar warga harus terus bertambah dengan hadirnya program ini. Semoga nantinya perekonomian warga semakin naik karena adanya kemampuan bahasa asing ini,” tutur Kenny.
Kemampuan komunikasi internasional dinilai menjadi modal penting bagi masyarakat urban. Kecakapan ini diharapkan memperkuat daya saing tenaga kerja dan usaha lokal.
“Di era global, menguasai bahasa asing adalah kunci utama untuk membuka peluang usaha baru, memperluas jaringan UMKM, dan meningkatkan daya saing kerja masyarakat kami,” jelas Kenny.
Untag Surabaya berkomitmen, jika perkembangan bahasa Inggris warga meningkat, kampus akan mulai memperluas program dengan mengajarkan bahasa Jepang sebagai lanjutan. [ipl/but]






