Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan dokter dari berbagai angkatan melakukan karnaval keliling sekitar kampus A Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Minggu (13/11/2022). Acara itu dalam rangka Perayaan Dies Natalis Unair ke-68 dan Pendidikan Dokter di Surabaya ke-109. Dengan menggunakan berbagai macam pakaian bak model Jember Fashin Carnival,
Dekan FK (Fakultas Kedokteran) Unair, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG., Subs. F.E.R, mengatakan bahwa mengikuti karnaval ini diwaliki oleh setiap alumni FK Unair. Yakni mulaitahun 1980-an hingga 2000-an. Beberapa di antaranya adalah, angkatan 1997 yang menggunakan batik berwarna kuning dengan didampingi Gatot Kaca. Peserta ini unjuk kebolehan di hadapan para juri dengan melakukan senam SKJ 98.
Ada juga alumni dari angkatan 1998, yang membuat karnaval ini menjadi teaterikal. Tentu saja sangat menarik perhatian. Para alumni ini menceritakan perjalanan virus corona masuk ke Indonesia hingga penanganan dokter dilakukan bukan hanya perawatan, hingga para dokter ini membuat vaksin merah putih.
[berita-terkait number=”3″ tag=”fk-unair”]
“Kegiatan ini sengaja diadakan sebagai wadah silaturahmi yang lebih dekat dan menyenangkan untuk para alumni. Karnaval atau defile angkatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara Dies Natalis FK Unair. Tujuannya, mengakbrabkan dan kembali bertemu dengan almamater kita, guru-guru kita, senior, teman-teman seperjuangan, dan adik kelas,” ujar Prof Budi Santoso.
Diketahui sebelumnya, beberapa kegiatan dilakukan juga seperti ada lomba lari dan pemasangan prasasti angkatan 1997 di Universitas Airlangga Surabaya.
dr. Muhammad Miftahussurur, Sp.PD, Wakil Rektor bidang Internasionalisasi, digitalisasi dan infromasi FK Unair Surabaya mengatakan seluruh mahasiswa kedokteran angkatan 1997 ini namanya akan dipajang didepan gedung Universitas Airlangga Fakultas Kedokteran terakhir sebelum dipindah pemasangan di lorong fakultas. Jumlahnya sebanyak 216 nama.
“Ya yang unik di angaktan 1997 ini selain gelaran dokter mereka memiliki gelaran Felowship yang berhak dipakai oleh seluruh dokter, selain itu kita juga ada pemasangan prasasti nama. Kebetulan di angkatan kami ini terakhir dipasang namanya di depan. Kami bangga sekali sebelum pemasangan dipindahkan ke lorong karena tidak cukup, karena ini bangunan cagar budaya makanya tidak mungkin dibongkar,” ungkap dr. Muhammad Miftahussurur. [way/suf]






