Surabaya (beritajatim.com) – Di hadapan taruna-taruni Poltekbang Surabaya, Sesban BPSDM Perhubungan Kemenhub RI Capt Wisnu Handoko membeberkan pemahaman hidup di era VUCA alias Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity.
Capt Wisnu mengatakan bahwa VUCA menggambarkan kondisi dinamis dari perubahan yang terjadi pada dunia global. Ia menyebut jika votality adalah ketidakpastian. Misalnya seperti teknologi dan penyakit yang tak terpikirkan bakalan terjadi.
Kemudian uncertainty ketidakpastian. Menurutnya, banyak sekali persaingan global yang menyebabkan ketidakpastian dalam perekonomian. Sedangkan complexity, artinya sebuah permasalahan yang serba kompleks. Lalu, ambiguity yang bermakna membingungkan.
“Kondisi seperti itu kan bahasanya tidak enak, makanya harus kita ubah,” kata Wisnu saat memberikan kuliah umum ‘Strategi Pengelolaan Diklat Vokasi Transportasi melalui BPSDM Perhubungan Next Go’ di Poltekbang Surabaya, ditulis Senin (24/7/2023).
Ia menyebut jika VUCA harus diubah menjadi bahasa dan pemahaman yang lebih baik. Sebab, itu penting untuk menjadikan lulusan taruna/taruni agar memiliki bekal cukup saat memasuki dunia kerja dan terjun langsung ke masyarakat.
“V nya menjadi Vision. Sharing vision, generasi muda harus kita bimbing dengan visi yang jelas. U menjadi Understanding pemahaman. Ilmu harus ditambah, sering-sering sharing dengan orang lain dan berkolaborasi. C Clarity kejelasan, menyampaikan harus jelas cara komunikasi harus bagus. A jadi Aguility kelincahan, termasuk lincah beradaptasi, lulusan taruna/taruni kita diharapkan seperti itu,” paparnya.
Baca Juga: Polinema Siap Jadi Tuan Rumah Porseni XIV Poltek
Pihaknya berharap, taruna/taruni di Poltekbang Surabaya juga mendapatkan cara pengasuhan dan pendidikan yang baik dan benar, sehingga menjadi generasi yang unggul. Karena itu, kekerasan harus benar-benar dihindari.
“Kita mau menghasilkan regenerasi pemimpin-pemimpin yang baru. Pemimpin yang disukai masyarakat adalah pemimpin yang humble, yang bisa tutun ke bawah, bukan yang arogan, enggak suka flexing. Nah itu enggak bisa tercipta kalau budaya kekerasan itu ada,” jelas Wisnu.
Pihaknya juga berkomitmen akan terus mendengungkan dan meminta sekolah-sekolah perhubungan di bawah naungan Kemenhub untuk tidak memakai cara kekerasan.
“Jangan terjebak dengan cara-cara kekerasan. Kedisiplinan tidak harus dengan kekerasan. Ini yang akan terus kita sosialisasikan ke seluruh sekolah-sekolah perhubungan kita. Saya lihat tadi taruna/taruni sudah paham dan tinggal implementasinya,” ungkapnya.
Sementara Direktur Poltekbang Surabaya Agus Pramuka menyampaikan bahwa untuk siap menghadapi dunia kerja, para taruna/taruni harus adaptif. Pihaknya juga berkomitmen untuk tidak menggunakan kekerasan dalam proses pendidikan.
“Kami manajemen, pengasuh terus mengingatkan kepada taruna/taruni kita agar bersikap dewasa dan menghindari cara-cara kekerasan. Kampus kita bukan militer, kita menegakkan disiplin tapi tidak memakan cara kekerasan,” tutupnya. [ipl]






