Probolinggo (beritajatim.com) – Gunung Bromo, dengan pesonanya yang tak terbantahkan, memang menjadi magnet bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Keindahan alamnya yang menakjubkan, hamparan pasir yang luas, serta pemandangan matahari terbit yang memukau, menjadikannya salah satu destinasi paling dicari.
Namun, di balik gemerlapnya pariwisata dan keindahan alam tersebut, terdapat cerita lain yang jarang tersorot. Sebuah kisah perjuangan tanpa henti dari warga Suku Tengger yang hidup di sekitar lereng Bromo, khususnya di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Desa Ngadas, dengan segala keindahannya, memiliki tantangan besar yang tak kunjung usai: krisis air bersih. Masalah ini menjadi semakin parah saat musim kemarau datang. Warga desa yang terletak di ketinggian lereng Bromo harus berjuang keras untuk mendapatkan air yang layak konsumsi.
Kepala Desa Ngadas, Ngastaman, mengungkapkan betapa beratnya kondisi yang mereka hadapi. “Kalau sudah masuk kemarau, warga harus berjalan sangat jauh untuk mendapatkan air. Sumber terdekat bisa sampai 20 kilometer jauhnya dari desa,” ujarnya dengan nada yang penuh keprihatinan saat ditemui pada Jumat sore (25/7/2025).
Air yang digunakan warga bukan berasal dari danau Ranu Kumbolo yang terkenal, melainkan dari rembesan air yang ada di sekitar kawasan tersebut, yang jaraknya cukup jauh dari desa mereka.
Tak jarang, bantuan air bersih harus datang menggunakan truk tangki dari wilayah Kabupaten Probolinggo untuk disuplai ke desa dan desa-desa sekitarnya. Keadaan ini menjadi rutinitas yang mereka jalani, namun tetap membawa beban berat bagi masyarakat Tengger.
Namun, meskipun hidup dalam kesulitan, semangat warga Ngadas tak luntur. Mereka berjuang agar suara mereka didengar oleh pemerintah. Dalam forum ‘Mujadalah Kyai Kampung’ yang digelar di desa mereka, di hadapan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, warga mengungkapkan harapan besar mereka agar masalah air bersih ini segera mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
Menanggapi harapan tersebut, Bupati Probolinggo, Muhammad Haris Damanhuri Romli, mengakui bahwa krisis air bersih di wilayah pegunungan Tengger memang sudah berlangsung lama. “Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama. Karena itu, kami di pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi yang terbaik agar kebutuhan dasar masyarakat bisa terpenuhi,” ujarnya.
Ini adalah bukti bahwa meskipun kesulitan yang dihadapi tak kunjung usai, ada harapan bahwa suatu hari permasalahan ini akan mendapat solusi yang bijaksana.
Di tengah segala keindahan alam Bromo yang memukau, kisah perjuangan warga Ngadas ini seolah menjadi pengingat yang sangat penting: pembangunan bukan hanya soal memajukan sektor pariwisata, namun juga tentang kesejahteraan dan hak dasar masyarakat yang ada di sekitarnya.
Keberadaan mereka, yang menjaga dan merawat alam ini, perlu mendapatkan perhatian serius, agar mereka dapat hidup dengan lebih layak, tanpa harus berjuang keras untuk hal yang paling dasar: air bersih. [ada/suf]






