Gresik (beritajatim.com) – Dewan Gresik mendorong layanan call center tenaga kesehatan (Nakes), bagi pasien yang menjalani isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19. Keberadaan call center ini sangat penting mengingat pasien isoman lebih besar dibanding pasien yang dirawat di rumah sakit.
Ketua DPRD Gresik H.Abdul Qodir menuturkan, ide adanya layanan call center nakes bagi warga yang menjalani isoman terwadahi. Saat pihaknya menggelar zoom meeting dengan ratusan perangkat desa dan kepala desa se-Kabupaten Gresik dalam penanganan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri serta pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1442.
“Ada beberapa kebijakan yang diusulkan dalam kolaborasi ini. Salah satunya call center nakes untuk warga yang melakukan isolasi mandiri,” ujarnya, Senin (12/07/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-gresik”]
Lebih lanjut Abdul Qodir mengatakan, melalui kolaborasi seperti ini. Diharapkan penanganan melonjaknya Covid-19 di Kabupaten Gresik bisa segera diatasi. Sebab, tidak mungkin menangani kasus tersebut hanya dilakukan oleh pemerintah daerah.
“Mustahil pemerintah daerah sendirian menangani kasus Covid-19 yang akhir-akhirnya ini terus melonjak. Untuk itu, dibutuhkan kebijakan bersama supaya penganan pandemi covid bisa fokus,” katanya.
Sementara, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) yang turut dalam diskusi zoom meeting itu menyatakan dalam penanganan covid kali ini. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Sebelum membuka layanan nakes bagi warga yang sedang isoman. Pihaknya sudah membuka posko layanan call center bantuan obat-obatan dan multi vitamin.
“Saya berharap pemerintah desa atau pemdes fokus pada penanganan Covid-19. Ini karena banyak warga desa yang sekarang ini terpapar dan menjalani isoman,” katanya.
Ia menambahkan, untuk mempercepat penanganan tersebut. Selain bekerjasama dengan pemdes. Pemkab juga meningkatkan kapasitas Stadion Gelora Joko Samudro (Gejos) yang semula hanya menangani pasien gejala sedang. Kini pasien dengan gejala ringan bisa ditangani disana.
Ketua Mitigasi Gresik dr Lestari Sudaryanti mengatakan, dirinya memprediksi puncak gelombang covid sampai di bulan Agustus. Tapi bulan Juli kondisinya sudah payah. Hal ini banyak warga yang terpapar ditambah kondisi BOR rumah sakit kurang dari 100 persen serta kekurangan tenaga nakes.
“Kasu ini tinggi karena masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan. Kedepan kita butuh rumah sakit infeksi agar penangannya lebih fokus,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Gresik, Nurul Yatim menjelaskan di lapangan pihaknya tidak hanya menghadapi pasien isoma saja. Tapi juga warga yang mengalami gejala ringan maupun sedang. Karena itu, AKD minta ada bimbingan terkait penggunaan dana desa yang dipakai menangani covid. “Ini yang penting bagaimana penggunannya agar tepat sasaran dalam menangani masalah penanganan pandemi Covid-19,” pungkasnya. [dny/kun]






