RINGKASAN BERITA:
- PPIH melarang keras jemaah haji penghuni tenda Mina berpindah lantai setelah melontar jumrah di lantai 3 Jamarat.
- Alur kepulangan dari lantai 3 dirancang otomatis memutar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim.
- Jemaah wajib menepi ke pinggir dinding terowongan dan dilarang panik jika terjadi insiden lampu padam tiba-tiba.
- Mayoritas maktab jemaah Indonesia berada di dekat Terowongan Muaisim yang terbagi dalam 61 markas operasional.
Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melarang keras jemaah haji Indonesia penghuni tenda Mina berpindah lantai setelah menyelesaikan prosesi melontar jumrah di lantai tiga bangunan Jamarat.
Ketegasan alur satu arah ini diberlakukan untuk mengamankan sirkulasi kepulangan jemaah agar langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim tanpa terjebak titik penumpukan massa yang rawan memicu kelelahan fisik.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, rekayasa jalur ini sangat vital mengingat rute jalan kaki pulang-pergi dari tenda Mina menuju Jamarat melintasi Terowongan Muaisim mencapai jarak berkisar 4,5 kilometer.
Ditambah paparan suhu panas ekstrem Kota Makkah yang kini menyentuh angka 44 derajat Celsius, kedisiplinan rute menjadi penentu utama keselamatan jiwa 175.682 jemaah reguler yang kini telah berkumpul di Tanah Suci, termasuk rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armuzna) dan Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, menjelaskan bahwa jemaah yang tinggal di tenda Mina seluruhnya diprioritaskan untuk melontar di lantai tiga Jamarat. Akses pergerakan awal dimulai dari Terowongan Muaisim lalu berjalan kaki melewati dua terowongan Mina.
“Kami mengimbau setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah. Tanyakan kepada petugas di lokasi arah kembali ke tenda, karena jalurnya akan berputar keluar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim,” kata Harun usai mengecek jalur pergerakan jemaah Mina menuju Jamarat, Minggu (18/5/2026) sore.
Larangan berpindah lantai ini didasari atas rancangan rute geometris satu arah yang dirilis otoritas keamanan Arab Saudi. Ketika jemaah tertib bertahan di lantai tiga setelah melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqobah, jalur keluar secara otomatis akan mengarahkan mereka memutar kembali menuju mulut terowongan awal secara aman tanpa berbenturan dengan arus jemaah dari negara lain.
Skenario pergerakan ini menuntut kepekaan petugas di lapangan untuk jeli menyaring orientasi jemaah. Petugas wajib memisahkan jemaah yang harus kembali ke tenda maktab Mina dengan jemaah yang memilih skema tanazul atau langsung pulang menuju hotel pemondokan di Makkah pasca-melontar.
“Jadi nanti jemaah setelah melakukan jumrah aqabah, wustha, dan ula, dia akan menuju terowongan lagi, masuk terowongan pertama, terowongan kedua, langsung ke depan tenda mina yang tadi kita ada di sana,” jelas Harun.
Selain kedisiplinan rute Jamarat, PPIH juga membekali jemaah dengan protokol keselamatan mitigasi darurat di dalam terowongan. Salah satu potensi risiko teknis yang diantisipasi adalah insiden pemadaman listrik darurat di dalam terowongan yang rentan memicu kepanikan massal (mass panic).
Jika lampu terowongan tiba-tiba padam saat rombongan melintas, Harun meminta dengan sangat agar ketua regu menginstruksikan jemaahnya untuk segera menepi ke sisi dinding kiri atau kanan terowongan secara tenang.
Langkah ini krusial untuk mengamankan ruang gerak sekaligus menghindari tabrakan fisik antarkelompok jemaah yang sedang berjalan dalam kondisi gelap.
Sejauh ini, pemetaan wilayah maktab menunjukkan sebagian besar jemaah haji Indonesia menempati wilayah Zona 3 dan Zona 5 di dekat Terowongan Muaisim. Mereka terbagi ke dalam 61 markas operasional, mulai dari maktab kecil di wilayah bawah hingga maktab besar di wilayah atas.
Sementara itu, untuk penempatan jemaah pengguna skema tanazul di Zona 5 saat ini masih dalam tahap perumusan regulasi final sebelum diumumkan serentak ke seluruh kloter. [ian/MCH]






