Jember (beritajatim.com) – Demam berdarah mulai mengintai di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dua orang pasien meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit milik pemerintah daerah.
Data yang diterima Komisi D DPRD Jember menyebutkan, ada 33 kasus dan satu kasus di antaranya meninggal dunia pada Desember 2023 dan 36 kasus pada Januari 2024 di Rumah Sakit Kalisat. Sementara itu di Rumah Sakit Balung, ada 15 kasus pada Desember 2023 dan 21 kasus pada Januari 2024.
Seorang bocah berusia 11 tahun meninggal dunia setelah sempat dirawat di ICU RS Balung. Ia ditengarai tak hanya sakit demam berdarah, tapi juga TBC.
Rumah Sakit dr. Soebandi menerima empat pasien pada Desember 2023, dan satu di antaranya meninggal dunia. Sementara pada Januari 2024 tercatat sudah ada lima orang pasien demam berdarah di sana.
“Memang sejak Desember kemarin, beberapa kasus, khususnya di Jember timur, sudah mencuat. Nyamuk demam berdarah ini kan bersarang di tempat yang bersih, sehingga tetap perlu ada upaya mulai dari pencegahan sampai dengan sosialisasi kepada masyarakat terutama di daerah yang rentan terjangkit,” kata Ketua Komisi D Hafidi, Selasa (16/1/2024).
Tidak semua pasien dirujuk ke rumah sakit. “Banyak yang bisa ditangani di puskesmas. Namun kami di DPRD intensif mengawasi, karena puskesmas sudah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Tentu pengambilan kebijakannya akan bervariasi, mulai dari pemenuhan kebutuhan obat, tindakan, dan sebagainya yang menyesuaikan besaran anggaran masing-masing puskesmas,” kata Hafidi.
Hafidi mengingatkan Dinas Kesehatan Jember agar sigap dalam menangani demam berdarah. “Saat kami meminta data untuk kebutuhan telaah dalam rapat komisi, butuh waktu berjam-jam. Saya tidak tahu apakah di Dinkes ini masih pakai sistem manual. Untuk data saja ruwet, pelayanannya seperti apa saya kurang paham,” kritiknya. [wir]






