Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 15 organisasi masyarakat (ormas) di Surabaya mendatangi Mapolrestabes untuk menyampaikan deklarasi damai, Rabu (3/9/2025). Langkah ini diambil sebagai respons atas kerusuhan yang terjadi pada 29–31 Agustus lalu, yang memunculkan kekhawatiran soal keamanan dan kenyamanan warga.
Deklarasi damai tersebut menegaskan penolakan terhadap segala bentuk anarkisme dan vandalisme. Ormas juga mengajak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dengan cara elegan dan beradab, tanpa tindakan yang merugikan kepentingan bersama.
Sekretaris Kawal Gibran Bersama (KGB) Jawa Timur, Agus Setiawan, menilai deklarasi ini sebagai wujud tanggung jawab moral organisasi masyarakat di Surabaya. “Ormas harus berdiri di depan menjaga Surabaya tetap aman. Kota ini adalah jantung Jawa Timur yang tidak boleh dikacaukan,” ujar Agus.
Ia menambahkan, gerakan serupa sebelumnya juga dilakukan dengan aksi damai di perempatan Tugu Pahlawan. Dalam kegiatan itu, ribuan bunga mawar dibagikan kepada warga, sementara spanduk berisi ajakan damai dipasang di sejumlah titik jalan utama di Surabaya. “Kami ingin warga tidak mudah terprovokasi. Surabaya harus tetap jadi kota yang aman bagi semua,” tegas Agus.
Isi deklarasi yang dibacakan bersama memuat komitmen untuk menjunjung persatuan tanpa memandang latar belakang suku maupun agama. Warga juga diajak menyampaikan aspirasi secara elegan, menolak segala bentuk kekerasan, serta berperan aktif menjaga iklim kondusif demi kelancaran usaha, pelayanan publik, dan pendidikan.
Sebanyak 15 ormas yang bergabung dalam deklarasi damai itu meliputi ASB, KPSIS, BakarJek, AMI, Grib Jaya, KGB, Bonek Yss, Forum Pemuda NTT, BM Kosgoro 1957, BRN, Jogo Boyo, Gen Z Surabaya, Gebrakan, hingga Sapu Lidi.
Perwakilan GRIB Jaya, Dadang Haryono, menegaskan bahwa komitmen bersama ini menjadi penanda bahwa masyarakat sipil di Surabaya menolak kerusuhan dan siap mengawal kota tetap aman. “Kami sepakat mengawal Surabaya agar tetap damai dan kondusif,” pungkasnya. [asg/beq]






