Magetan (beritajatim.com) – Debat publik pertama Pilkada Kabupaten Magetan 2024 yang digelar di Gedung PGRI Magetan, Kamis (17/10/2024), menghadirkan diskusi yang menarik terkait pengembangan budaya daerah dan tantangan dalam pembangunan kawasan wisata Sarangan. Dalam debat ini, tiga pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati saling beradu gagasan mengenai solusi bagi isu-isu strategis di Kabupaten Magetan.
Pertanyaan Paslon 01 pada Paslon 02
Salah satu pertanyaan penting diajukan oleh Paslon Nomor Urut 1, Nanik Endang Rusminiarti dan Suyatni Priasmoro, yang menanyakan kepada Paslon Nomor Urut 2 tentang hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan potensi budaya Magetan agar mampu bersaing di tingkat global.
Hergunadi, Cabup Nomor Urut 2, menjawab dengan optimis bahwa tidak ada hambatan yang signifikan dalam upaya pengembangan budaya lokal ke kancah internasional. Ia mencontohkan keberhasilan Bung Karno memperkenalkan budaya Indonesia di era 1960-an melalui tari lenso, dan menegaskan bahwa upaya serupa bisa dilakukan kembali dengan memaksimalkan peran teknologi, khususnya media sosial dan internet. Menurutnya, pengenalan budaya harus dimulai dari akar rumput, seperti melalui kegiatan karang taruna di desa-desa.
“Budaya merupakan bagian dari karakter bangsa, seperti yang dikatakan Gus Dur, dan ini harus dijaga dan dilestarikan. Kami akan mengenalkan budaya sejak dini, memanfaatkan media sosial, dan mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestarian budaya,” ujar Hergunadi.
Basuki Babussalam, Cawabup Nomor Urut 2, menambahkan bahwa salah satu kendala utama adalah minimnya panggung bagi seniman-seniman lokal. Ia berjanji untuk mengintegrasikan pertunjukan seni dalam setiap kegiatan pemerintah daerah dan menyiarkannya secara digital, sehingga para seniman bisa mendapatkan panggung yang layak.
“Kami akan pastikan bahwa setiap kegiatan pemerintah akan diawali dengan pertunjukan seni budaya. Ini akan menjadi langkah nyata untuk memperkenalkan budaya kita secara lebih luas, bahkan ke dunia internasional,” tambah Basuki.
Suyatni Priasmoro, Cawabup Nomor Urut 1, menekankan bahwa budaya bukan hanya soal seni, tetapi juga mencakup aspek disiplin dan kebersihan. Ia menyebutkan bahwa negara maju seperti Korea dan Jepang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan tertib karena masyarakatnya memiliki budaya disiplin yang tinggi sejak usia dini.
“Budaya hidup bersih dan tepat waktu masih perlu ditanamkan dalam masyarakat kita. Ini adalah bagian dari pembangunan karakter yang harus dimulai dari pendidikan dan edukasi sejak dini,” ujar Suyatni, seraya mencontohkan beberapa pesantren di Magetan yang telah menerapkan pendidikan karakter dengan baik.
Pertanyaan Paslon 02 pada Paslon 03
Pasangan calon (paslon) nomor urut 02, Hergunadi-Basuki Babussalam, melontarkan pertanyaan tajam kepada paslon nomor urut 03, Sujatno-Ida Yuhana Ulfa, terkait permasalahan pembangunan di Kabupaten Magetan. Fokus perdebatan kali ini berkisar pada perencanaan pembangunan yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional dan bagaimana hal ini berdampak pada pengembangan budaya dan seni di daerah tersebut.
Basuki Babussalam, calon Wakil Bupati dari paslon nomor urut 02, menyoroti peran Sujatno sebagai Ketua DPRD Magetan. Ia menanyakan mengapa masih ada banyak persoalan pembangunan di Kabupaten Magetan, terutama di bidang kebudayaan, meskipun Sujatno memiliki kewenangan besar sebagai pimpinan lembaga legislatif.
“Pak Yatno, sebagai Ketua DPRD, tentu memahami bahwa terkait perencanaan pembangunan kita diikat oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004. Bapak juga tadi menyampaikan banyak persoalan pembangunan, tapi mengapa hal itu masih belum tuntas? Apa kendalanya?” tanya Basuki.
Dia juga mengingatkan bahwa DPRD memiliki peran dalam perencanaan, penganggaran, dan pengawasan pembangunan. Basuki menekankan pentingnya kerjasama yang solid antara legislatif dan eksekutif untuk memastikan perencanaan yang sudah dibuat bisa dieksekusi dengan baik.
Sujatno, calon Bupati dari paslon nomor urut 03, merespons dengan menguraikan mekanisme perencanaan pembangunan di DPRD. Ia menjelaskan bahwa segala proses perencanaan, termasuk Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten, sudah dijalankan sesuai prosedur. Namun, ia menekankan bahwa eksekusi dari perencanaan tersebut berada di tangan eksekutif.
“Kami di DPRD sudah mengusulkan berbagai hal, termasuk pelaksanaan Perpres 80 Tahun 2019. Tetapi, tidak ada tanggapan dari eksekutif. Jadi, kalau dikatakan perencanaan ada di DPRD, itu kurang tepat. Eksekusi ada di eksekutif,” tegas Sujatno.
Tidak puas dengan jawaban Sujatno, Basuki Babussalam kembali menanggapi. Ia menyebutkan bahwa sebagai anggota DPRD, Sujatno dan rekan-rekan memiliki ruang untuk menekan agar perencanaan dapat terlaksana. Menurutnya, menyalahkan eksekutif saja bukan solusi yang tepat, karena undang-undang mengatur bahwa pemerintahan merupakan hasil kerjasama antara legislatif dan eksekutif.
“Jenengan punya ruang kendali, termasuk palu untuk menekan agar perencanaan terlaksana. Jadi jangan hanya menyalahkan eksekutif. Pemerintahan adalah kerjasama antara eksekutif dan legislatif,” ujarnya.
Basuki juga menyinggung tentang dampak pandemi COVID-19 yang menghambat beberapa program, termasuk pelaksanaan Perpres 80, yang berfokus pada Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Ia berjanji, jika terpilih, mereka akan menyelesaikan hal ini.
Menanggapi lebih lanjut, Sujatno menggarisbawahi pentingnya fasilitas yang memadai untuk mendukung pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Magetan. Ia menyebut bahwa saat ini tidak ada Gedung Kesenian yang representatif untuk menampung kreativitas seniman lokal. Sujatno berjanji, jika terpilih, ia akan membangun Gedung Kesenian yang layak sebagai upaya untuk mengangkat seni Magetan ke tingkat global.
“Jika kami terpilih, kami akan membangun Gedung Kesenian yang representatif, sehingga seni dan budaya Magetan bisa berkembang dan mendunia,” tegasnya.
Ida Yuhana Ulfa, calon Wakil Bupati nomor urut 03, menambahkan bahwa salah satu tantangan besar dalam pengembangan budaya di Magetan adalah rendahnya partisipasi pemuda. Ia menyampaikan keprihatinannya bahwa banyak generasi muda yang tampak pasif dan tidak peduli terhadap pelestarian budaya lokal.
“Sebagai seorang guru, saya prihatin melihat kondisi ini. Pemuda kita cenderung pasif dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama, bukan hanya sekedar retorika,” ucapnya.
Pertanyaan Paslon 03 pada Paslon 01
Selain soal budaya, isu pembangunan kawasan wisata Sarangan juga menjadi topik hangat dalam debat ini. Paslon Nomor Urut 3, Sujatno dan Ida Yuhana Ulfa, menyoroti masalah lingkungan yang dihadapi kawasan wisata Sarangan dan bertanya kepada Paslon Nomor Urut 1 bagaimana cara mereka memastikan bahwa program pengembangan Sarangan tidak akan merusak ekosistem.
Nanik Endang, Cabup Nomor Urut 1, menjelaskan bahwa pendekatan persuasif kepada masyarakat sekitar Sarangan menjadi kunci untuk menjaga lingkungan. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, karena hal tersebut berpengaruh langsung terhadap daya tarik wisata.
“Pendekatan persuasif akan kita lakukan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Jika pendekatan ini belum cukup, kita akan mempertimbangkan langkah-langkah penegakan hukum atau pendekatan budaya,” ungkap Nanik.
Namun, Sujatno, Cabup Nomor Urut 3, berpendapat bahwa upaya penataan Sarangan harus dilakukan secara komprehensif, bukan hanya fokus pada masalah kebersihan atau pedagang saja. Ia menegaskan perlunya perencanaan yang menyeluruh agar Sarangan bisa dikelola dengan lebih baik dan ramah lingkungan.
“Sarangan perlu ditata secara menyeluruh, mulai dari jalur masuk dan keluar hingga penataan pedagang. Jika perencanaannya matang dan komprehensif, masyarakat akan mendukung,” tutur Sujatno. [fiq/but]






