Ngawi (beritajatim.com) – Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans menegaskan pentingnya strategi yang matang, terutama dengan mempertimbangkan potensi wilayah dan segmen pemilih.
Salah satu fokus utama Gus Hans adalah memperkuat basis dukungan di wilayah-wilayah yang sudah dianggap “hijau”, terutama kalangan Nahdliyin yang menjadi segmen penting di daerah tersebut.
Pendamping Calon Gubernur Jatim Tri Rismaharini itu menyadari bahwa ada wilayah di Jawa Timur yang menunjukkan hasil survei positif, seperti Pasuruan dan Probolinggo. Meski demikian, ia menegaskan bahwa upaya untuk memperkuat dukungan di wilayah tersebut tetap perlu dilakukan.
“Saya akan memperkuat di wilayah hijau dengan mendatangi santri, pengamal istighosah, karena mereka selalu menggunakan amalan dari mbah saya,” ujar Gus Hans usai datang dalam acara Rpaat Kerja Cabang Khusus (Rakercabsus) DPC PDIP Ngawi di Hall Bima Notosuman Convention Hall Ngawi, Minggu (29/9/2024).
Menurut Gus Hans, fokus utama kampanye adalah mendekati komunitas-komunitas pengamal istighosah dan alumni santri, karena mereka memiliki ikatan spiritual yang kuat. Gus Hans juga menekankan pentingnya penggarapan segmen NU Cultural yang lebih masif.
“Muslimat, misalnya, pasti mereka adalah alumni santri. Jadi kami akan fokus pada alumni santri dan keluarga besar santri,” tambahnya.
Menyadari adanya pembagian wilayah dalam strategi kampanye, Gus Hans menekankan bahwa ia akan fokus pada wilayah hijau, sementara Bu Risma akan bekerja lebih keras di wilayah yang dianggap “merah”. Hal ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan suara yang saling melengkapi di seluruh Jawa Timur. Dengan cara ini, strategi tim kampanye dapat terfokus pada penguatan basis-basis masing-masing tanpa saling tumpang tindih.
Sikap Terhadap Kalangan Nahdliyin yang Terbagi
Saat ditanya mengenai pembagian dukungan kalangan Nahdliyin yang tersebar ke tiga calon, Gus Hans menyatakan bahwa hal ini akan dihadapi dengan memperkuat pendekatan kepada NU Cultural.
Dia berencana untuk menjangkau lebih masif komunitas-komunitas seperti pengamal istighosah dan pondok pesantren. Strategi ini dianggap penting, mengingat keterkaitan emosional antara komunitas pesantren dan calon pemimpin dari kalangan Nahdliyin.
Ketika ditanya mengenai target di wilayah Ngawi yang dikenal sebagai “kandang banteng”, Gus Hans dengan rendah hati mengakui bahwa ia tidak menargetkan kemenangan mutlak
“Tidak muluk-muluk menang,” katanya. Fokus Gus Hans di wilayah ini adalah menjalankan kampanye secara strategis, sambil tetap realistis terhadap tantangan yang dihadapi.
Gus Hans juga menyebutkan pentingnya “resik-resik” Jawa Timur, terutama mengingat adanya beberapa kasus yang sedang ramai diperbincangkan, seperti isu hibah. Menurut Gus Hans, perlu ada upaya serius untuk membersihkan berbagai masalah ini agar tidak terus menjadi polemik di tengah masyarakat.
Sementara itu, Dwi Rianto Jatmiko, Ketua DPC PDIP Kabupaten Ngawi, menjelaskan bahwa partainya telah menggelar rapat kerja cabang khusus (Rakercabsus) sebagai tindak lanjut dari rapat kerja daerah di Surabaya.
“Salah satu rekomendasi penting dari rapat tersebut adalah membangun soliditas internal dan komunikasi antarpartai, mengingat adanya perbedaan partai pengusung antara pemilihan gubernur dan bupati,” terang pria yang kini menjadi Cawabup Ngawi mendampingi Ony Anwar Harsono itu.
PDIP juga berfokus pada sinkronisasi strategi untuk memastikan semua segmen masyarakat di Ngawi tergarap dengan baik. Dwi Rianto menekankan bahwa segmen seperti Muslimat dan pondok pesantren tertentu membutuhkan pendekatan khusus, terutama dalam situasi di mana dukungan Nahdliyin tersebar di tiga calon berbeda. [fiq/suf]






