Indonesia akan menghadapi Australia kembali pada lanjutan babak kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup C, 20 Maret 2025 di Sydney Football Stadium. Jay Idzes dan kawan-kawan ditargetkan bisa mencuri poin pada pertandingan tersebut. Tidak menutup kemungkinan target itu bisa terpenuhi, mengingat pada pertandingan sebelumnya, 10 September 2024 lalu, di Stadion Gelora Bung Karno kedua tim bermain imbang tanpa gol.
Hasil tersebut bisa menjadi modal utama dalam membangun mental pemain Indonesia, apalagi Indonesia mampu membuat sejarah dengan menahan imbang dan mengalahkan Arab Saudi pada pertandingan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Indonesia saat ini sudah setara dengan tim-tim yang pernah lolos ke final Piala Dunia.
Jika melihat statistik pertandingan antara kedua tim, dari 20 pertandingan yang sudah dilakoni, Australia dominan memenangkan pertandingan, yakni 15 kali dan hanya kalah sekali, selebihnya seri. Australia juga berpengalaman lolos ke final Piala Dunia sebanyak 4 kali (2010, 2014, 2018 dan 2022), sementara Indonesia belum pernah sama sekali.
Dari sisi ranking FIFA, selisihnya sangat signifikan. Indonesia saat ini berada di peringkat 127 dan Australia 25, sedangkan nilai pasarnya Tim Nasional Australia juga tiga kali lipat lebih tinggi dari Tim Nasional Indonesia, Australia memiliki total nilai Rp. 732.070 milyar dan Indonesia hanya 285.79 milyar. Keuntungan lain Australia berstatus sebagai tuan rumah, dukungan penonton akan menjadi pemicu semangat bertanding tim asuhan Tomy Popovic itu.
Memperhatikan statistik tersebut, nampaknya sulit mengalahkan Asutralia di kandangnya karena secara kualitas mereka lebih unggul. Apakah data itu akan menjadi faktor penentu hasil pertandingan tanggal 20 Maret 2025 nanti? Bisa jadi iya, namun bisa juga tidak karena dalam permainan sepak bola ada istilah bahwa bola itu bundar. Artinya peluang sekecil apapun kalau dimaksimalkan bisa membalikkan kedadaan. Kemenangan Arab Saudi atas Argentina pada Piala Dunia 2022 dan Jepang bisa menaklukkan Jerman dan Spanyol merupakan fakta yang tak terbantahkan atas kebenaran istilah tersebut. Asutralia sendiri juga dikalahkan Bahrain 1-0 ketika bertindak sebagai tuan rumah Kualifikasi Piala Dunia 2026 beberapa waktu yang lalu.
Catatan buruk kekalahan Indonesia dari Australia sebanyak 15 kali, bisa dijadikan dorongan bagi pemain Indonesia untuk memutus mata rantai kekalahan. Saat ini kondisinya berbeda, tim nasional Indonesia banyak dihuni pemain naturalisasi yang kemampuannya di atas rata-rata pemain domistik. Mereka berasal dari negara yang sepakbolanya lebih maju dan memiliki pengalaman bertanding di kompetisi professional yang lebih baik.
Problematika Tim
Pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert akan berdampak pada persiapan tim. Sampai saat ini, seluruh pemain belum pernah berkumpul untuk latihan bersama dan melakukan uji coba. Semua pemain sedang membela klubnya masing-masing sehingga tidak memungkinkan berlatih bersama menghadapi pertandingan melawan Australia nanti. Praktis pemain hanya punya waktu berkumpul dua hari, jika mereka tiba di Australia pada tanggal 17 Maret 2025.
Kebutuhan memahami taktikal dan gaya permainan Kluivert butuh waktu karena dipastikan akan berbeda dengan pelatih sebelumnya. Tidak heran jika Marselino Ferdinan saat ini masih bertanya-tanya corak permaian yang akan diterapkan oleh pelatih asal Belanda itu. Belum lagi masalah absennya beberapa pemain kunci, seperti Ragnar Oratmangoen, yang terkena akumulasi kartu kuning, dan Justin Hubner akibat kartu merah. Hadirnya pemain baru yang sekiranya nanti eligible, yakni Joey Pelupessy, Dean James, dan Emil Audero Mulyadi butuh adaptasi dengan pemain yang lebih dulu berada dalam tim.
Kondisi tersebut merupakan tantangan berat bagi Kluivert dan staf kepelatihannya. Jika mereka gagal mengelola kondisi itu, maka sulit rasanya bisa memenuhi target yang diharapkan. Nasib Kluviert tidak akan jauh berbeda dengan Herve Renard, pelatih baru Arab Saudi yang menggantikan Roberto Mancini. Renard ternyata tidak mampu memenuhi harapan masyarakat Arab Saudi untuk mencuri poin saat melawan Indonesia.
Sementara, Australia sendiri bukan tanpa masalah. Beberapa pemain pilarnya dikabarkan mengalami cedera dan diperkirakan tidak bisa tampil saat menjamu Indonesia, seperti Joe Gauci (Penjaga Gawang), Alessandro Circati, Harry Souttar, Jordan Bos, dan Hayden Matthews. Ketidakhadiran mereka dipastikan akan mengurangi kekuatan tim berjuluk Socceroos itu dan sebaliknya akan menguntungkan Indonesia.
Hasil pertandingan melawan Australia akan menjadi faktor penting perjalanan Tim Garuda ke fase berikutnya. Seperti diketahui, di Grup C nantinya hanya diambil juara dan runner up yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Jepang nampaknya sudah tidak terkejar poinnya, tinggal mencari satu tim untuk mendampingi tim Samurai Biru itu.
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya







1 Komentar
Australia lolos Piala Dunia 6 kali, Pak Lek. Bukan 4 kali. Australia pertama kali lolos Piala Dunia pada 1974 yang berlangsung di Jerman Barat. Australia masuk grup 1 bersama Jerman Barat, Jerman Timur, dan Chile. Australia uru kunci grup dengan 1 hasil imbang (lawan Chile pada 22 Juni 1974) dan 2 kekalaha dari Jerman Barat dan Jerman Timur.
Australia lolos lagi ke Piala Dunia 2006 di Jerman. Penampilan keduanya lebih baik dari 1974. Bergabung F bersama Brazil (juara bertahan 2002), Jepang, dan Kroasia. Australia jadi runner up (di bawah Brazil). Pada perdelapan final (26 Juni 2006) Australia kalau=h dari Italia dengan skor 0-1. Italia melaju ke final dan juara dunia.
Penampilan Australia di Piala Dunia 2010 itu yang ketiga, Pak Lek. Bukan yang pertama. Semoga tidak keliru waktu ngajar dan ngasih seminar tentang Piala Dunia.