Makassar (beritajatim.com) – Dunia konten kreatif kini semakin diminati generasi muda. Namun, tak banyak yang benar-benar memahami bahwa konsistensi dan proses jauh lebih penting dibanding sekadar validasi.
Hal itu yang dipegang teguh oleh Regina Angelina Budiono, mahasiswi Universitas Teknologi Nusantara Bogor asal Kota Makassar.
Lewat olahraga lari, podcast, hingga akting, Regina membangun personal branding sebagai sosok yang positif, pantang menyerah, dan berdampak bagi audiensnya.
Lari Jadi “Me Time” dan Cara Mengenali Diri
Bagi Regina, lari bukan sekadar olahraga, tetapi bagian penting dari rutinitas harian. Ia menjadikan aktivitas tersebut sebagai waktu refleksi diri sekaligus pelepas stres.
“Karena lari itu menjadi me time buat aku. Aku bisa merefleksi diri sendiri, pikiranku jadi lebih tenang. Lari membuat aku bisa mengenali diri sendiri dan melepas stres. Hidup kan kita harus punya kegiatan yang positif,” ujarnya.
Regina biasanya berlari sebelum berangkat kerja. Menurutnya, olahraga di pagi hari membantu menjaga mood sekaligus menjadi momen produktif untuk membuat konten. Ia juga ingin mengedukasi audiens tentang pentingnya hidup sehat, bukan sekadar mengejar target fisik semata.
Eksplorasi Diri Lewat Akting dan Konten Media Sosial
Selain aktif berolahraga, Regina juga menekuni dunia akting. Ketertarikannya pada kamera sudah muncul sejak kelas 6 SD, saat pertama kali memiliki ponsel.
“Dari kecil saya sudah suka depan kamera. Waktu mulai memerankan beberapa karakter, saya sadar ternyata saya bisa memainkan peran yang berbeda dari karakter asli saya,” katanya.
Dalam mendalami karakter, Regina mengaku selalu membaca naskah secara menyeluruh, memahami latar belakang cerita, hingga mencari kesamaan antara dirinya dan karakter tersebut. Tantangan terbesarnya adalah saat harus memerankan karakter yang bertolak belakang dengan kepribadiannya.
“Misalnya saya orangnya energik dan pemarah, lalu harus memerankan karakter mellow. Itu susah banget. Tapi kuncinya memahami emosi dari peran tersebut,” jelasnya.
Ia juga menilai improvisasi sangat penting bagi seorang aktor. Regina melatihnya lewat teknik spontan dan roleplay agar akting terasa lebih natural.
Ke depan, ia ingin memerankan karakter yang kompleks, memiliki sisi gelap namun tetap berwibawa. Baginya, karakter seperti itu mampu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki banyak sisi dalam dirinya.
Podcast Jadi Ruang Ekspresi Paling Jujur
Tak hanya aktif di Instagram, Regina juga serius menekuni dunia podcasting. Baginya, podcast adalah ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa harus memerankan karakter tertentu.
“Kalau di podcast, saya tidak buat-buat. Saya berbagi hal-hal positif, saya suka bercerita dan berbagi informasi bermanfaat ke audiens,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya komunikasi dua arah dalam membuat konten yang engaging. Menurut Regina, banyak kreator lupa bahwa audiens juga ingin didengar dan dihargai.
“Kita sebagai podcaster juga harus belajar mendengar, jangan hanya berbicara. Dengan begitu audiens merasa dihargai,” tambahnya.
Salah satu sosok yang berkesan baginya adalah Dian Sastrowardoyo. Regina mengagumi kepribadian sang aktris yang tetap rendah hati meski telah berada di puncak karier.
“Meski sudah di atas, beliau tetap low profile dan baik ke orang. Itu tidak mudah,” tuturnya.
Selain itu, Regina juga terinspirasi dari drama Korea Sky Castle yang mengangkat kisah tekanan orang tua terhadap anak dalam menentukan masa depan. Dari drama tersebut, ia belajar bahwa validasi bukanlah segalanya dan setiap orang berhak memilih jalannya sendiri.
Proses Lebih Penting daripada Validasi
Dalam menjalani aktivitas sebagai konten kreator, podcaster, dan calon aktris, Regina memegang satu filosofi hidup: proses lebih penting daripada validasi.
“Apapun yang aku lakukan, proses lebih penting daripada validasi. Dengan berproses dan bertumbuh, pasti orang akan mengakui perjuangan kita,” tegasnya.
Ia juga membagikan pesan untuk generasi muda, khususnya Gen Z, yang ingin membangun personal branding.
“Jangan terburu-buru membangun citra. Bangun dulu karakter yang positif. Personal branding itu akan mengikuti karakter kita,” katanya.
Regina mengingatkan agar anak muda tidak takut memulai dan tidak gentar menghadapi komentar negatif. Menurutnya, konsistensi jauh lebih penting daripada pengakuan instan.
“Tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan. Jangan takut salah, karena pasti ada trial and error,” pungkasnya.
Dengan semangat konsistensi, karakter positif, dan keberanian untuk terus bertumbuh, Regina Angelina Budiono membuktikan bahwa generasi muda bisa membangun identitas diri yang kuat lewat proses yang panjang dan penuh makna.(mnd/ted)






